sajak-sajak dharmadi

TELAH REDA GERIMIS SENJA

garis-garis putih
menggurat di langit
sesudah reda gerimis senja
dan bersisa percikan api
sesekali di angkasa
dengan suara getaran udara
jadi gema di tenggara
sebidang ruang berkilauan
beningnya

siapa di sana setia membersihkannya?
di sinilah aku menunggu kerja cintamu

1974

CAHAYA HARI

hari taburkan di sini
di pilar-pilar cuaca
cahaya hari
yang serbuk-serbuknya
di kantung langit

1974

PEREMPUAN

putih bola matanya jadi merah
dan kelopak bunga di tangannya basah;
angin merendah, cahaya patah-patah
dikikisi senja dan tengadah,
wajahnya tanpa rupa di sana
dalam raupan mega yang buram membisikkan suara
memanggil-manggil namanya; perempuan-perempuan
berapa kau punya usia?

1975

SAJAK MENATAP LANGIT

langit yang terentang bagai layar
di mana ujung di mana pangkal di mana batas
pada tonggak apakah ujung-ujungmu diikatkan
kabut dan awan
matahari dan bulan
saling bergantian
melekatkan kesetiaan

burung-burung, kelelawar seperti
tak lelah-lelahnya melintasi rentanganmu
betapa kebebasan sangat berharga ketika
di bumi sendiri hari-hari makin
menjadikan sesak nafas
tanah-tanah kehilangan keluasannya dan
kehilangan hakekatnya

hilang sari tanahnya
ingkar kodratnya penumbuh kehidupan

masih adakah ruang di balik
rentang langitmu, siapakah di sana?
aku bayangkan; kalau tonggak itu patah,
jerat talimu putus, langitmu
roboh, petaka apakah bagi kehidupan bumiku?

1994

BAYANG-BAYANG 2

bulan di pucuk cemara, angin melintas
membelai ranting, ada suara
tak menderu hanya derai seperti gumam
yang perlahan, berkepanjangan

gemetar pohonan menyelinap
bayang-bayang
telanjang dimandikan
cahaya rembulan
menari di hamparan padang
berselendang rajutan awan

sesekali meniti gigir perbukitan
memainkan lentik jemarinya
di sela-sela ilalang

1994

KEMARAU

sungai tinggal serakan
batudan pasir di dasarnya

sawah ladang ringgal retaknya

pohon jati berdiri tegak tinggal
batang dan ranting kering
kehilangan daunnya

kehidupan tinggal debu
dan hati tinggal perih lukanya

1994

PERJALANAN MALAM

mulanya senja kemudian sepi
seperti mempertegas waktu

aku telah masuk di dalamnya

kau melukis malam
dengan warna kelam

aku dalam perjalanan

tanganmu tak kulihat lelah
mengubah-ubah warna
dari kelabu ke hitam
ke cokelat tanah

aku meraba-raba
dinding rumah
yang purba

salahkah aku kalau selalu
menduga-duga

ada denting yang panjang
bergelombang dalam
desir angin gemetar

dibasahi renyai
gerimis

mengiris-ngiris hatiku

perjalanan malam
malam yang panjang
apalagi kau warna kelam

kapan kan sampai
mencapai rumah
rembulan?

1994

DIRI KEMBALI KE ASAL

masihkah perlu percakapan
kalau hanya celoteh dan
keinginan-keinginan

saatnya kembali pada diam
sambil belajar membaca
gerak alam

sujud ilalang pada tiupan angin
hijau dan kering rumput setia pada
irama cuaca

tak ada rasa sakit dan direndahkan

wajah Tuhan di kanvas kehidupan
wajah Tuhan di kanvas jiwa yang
putih pualam

tak perlu menyusun anak tangga
demi meniti puncak dan terbahak

menatap diri kembali
ke asal

1995

DI PADANG PADANG YANG LUAS

aku masih berjalan, sendiri, dan
rambut jiwaku yang kaupintal berjuraian
dipermainkan angin kehidupan; bunga-bunga yang
kausuntingkan di sepanjang ujung dan pangkalnya
makin layu, kelopaknya berguguran, tak juga
menyisakan harumnya tak lagi terbilang
berupa juta jejakku dalam catatan waktu

masihkah setia kau menunggu?

di padang-padang yang luas, deru derap telapak
beribu kuda menggelombangkan debu menggumpal di
kelopak mata suaranya menggema di rongga dada
pisau ilalang menorehkan luka di jiwa bagai
mata air ujung jemari meneteskan darah pergulatan;

masihkah kau setia menyembuhkan?

aku masih berjalan; sendiri, di padang-padang yang
luas, dengan kelopak mata yang terpejam, sambil
mengecup jemari tangan yang meneteskan darah, ah,
manisnya ke pengkuan mu menidurkan kesunyian.

1996

Related posts

Leave a Comment