Sajak-sajak JR Laety

Betina, Matilah Tanpa Rangka

Ayo, betina. Merentang sayap di malam buta
mata berkaca-kaca, tangis mengada-ada
diam menikmati neraca jiwa

Engkau betina, mana taman yang kau sapa?

Wahai, betina. Tabir malam hotel berbintang
lengang terlena-lena, lunta berkata-kata
tapi jatuh bangun di kaki lima

Engkau betina, matilah tanpa rangka!

Ayo betina. Naikkan kuda-kuda jaga
bercinta meliuk-liuk daun luruh
angin jatuh, pagi bangun kesiangan

Engkau betina, mati benar tanpa rangka

Juli 2001

Danau, Telaga dan Pagar Menyemak

Danaumu yang ranum, kemana air mengalir?
aku rindu mengisapnya seperti musim panas
mencucut-cucut rumput, ilalang, dan bunga siang
haus bangun tinggi hari. Takdir apa?

Ada pagar tumbuh di tengah semak taman
anggur meracuni rusuk rasa, tanpa tidur
tanpa mimpi rama-rama dan musim bercinta
tahu apa ia tentang embun dan kedinginan?

Telagamu yang harum, kemana jernih mengabur?
aku rindu menggiringnya dengan jaring angin
memilah-milah lumut, belalang, dan capung angin
airmata riak bergolak. Sesak apa?

Pagar itu tumbuh kasar dan menyemak
Merasuki tidur, menggerayangi angin dan mimpi
menjadi hujan dan berduri. Tahu apa ia tentang
danau dan telagamu yang tak lagi membiru?

Juli 2001

Doa dan si Tua Kafir

Mencium sisa sujudmu, ada doa berdusta
ia bercerita tentang luka dari sorga
angin panas dan kerontang suatu siang
Tuhan, katanya, tak pandai lagi meramal

Ia hanya menunggang kuda dan melempar laso
liar seperti Zorro atau koboi Marlboro

Hei! Aku punya cerita dari kitab lama
seorang tua berkaca pada sajadahmu
berlutut dan menemukan matanya penuh nanah
ia saksi kekaburan; Ia bangkit dari kubur

Lalu ia menunggangi anaknya dengan sihir
berlindung pada takdir, tapi ia si tua kafir!

Juli 2001

Tepian, Air Mata Pusara

Tepian ini, jernih airnya
memantul sinar di wajahmu
saat memungut daun hanyut
lentera jatuh ke kali
: aku melihat raut bulan kusut

Menerawang geram ke hilir
gelap menyapu sudut mata
menyisir liar ke hulu
riak memercik di dahi
: aku melihat raut bintang remang

”Saputlah air mata,
kita kembali ke huma
pondok kecil dan bara menyala
menyalai seiris daging”

Suaramu seperti malam jenuh
seperti arang aku rapuh
menggiringmu tinggalkan tepian
tak ingat daging panggangmu
menyusup ke huma dan pulas
: aku melihat ilalang bergoyang

Airmata, oh, airmata
ia menjelma igauan senja
sepanjang malam, seluruh tidur
lebur dalam gambar-gambar liar
seseorang menegur dengan kasar
: aku melihat ranjang berdarah

”Urungkan duri dan sangsi
kita berjalan malam ke hulu
menunggui mata air airmata
hingga tumbuh kamboja
lalu kita kembali ke tepian”

Isakmu seperti giris di pusara
tapi entah kapan mulut berkata
aku bersandar di batu dan berdusta
: aku melihat bintang di kakimu
masih dengan remang semula

Juli 2001

BIODATA

JR LAETY, penyair dari komunitas sastra Jambi ini lahir dengan nama Joni Rizal,
1973. Menulis sejak SMP. Tulisannya berupa laporan perjalanan, cerpen, puisi,
dan esei diterbitkan di beberapa media massa pusat dan daerah. Tercatat sebagai
pemenang lomba cipta puisi pada Festival Seni dan Budaya Jambi 1999. Sebagian
puisinya termuat dalam antologi Tirawang (bersama lima penyair Kerinci) dan
antologi puisi cyber Graffiti Gratitude (Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit
Angkasa Bandung). Kini bekerja sebagai wartawan Jambi Independent (Grup Jawa
Pos).

Related posts

One Thought to “Sajak-sajak JR Laety”

  1. Terimakasih atas informasinya

Leave a Comment