Sajak-sajak Sutan Iwan Soekri Munaf

Sajak untuk Medy Loekito

Awal adalah segala tanya
dan sangsi berantai
tertanam di setiap lekuk senja
tentang siapa dirimu datang menghandai

Dalam seiring sejalan
kudapat sepotong jawaban pada seekor semut yang rela direnggut maut

Dan pelan-pelan kuberbisik pada kalbu
tentang kesabaran
akan berbuah sebongkah harapan
dan kuulangi lagi dalam kisi hati
terawangi langit biru
lepaskan haru biru diri

Pariaman November 1977

Ibu

Lembaga hati belahan batu
dalam tanah-tanah rindu
tumbuh senyummu
dan sesudut mata bernas memandang
ke dalam mimpi di antara tualang
– Akulah Malinkundang zaman
yang terbelah dari rahimmu! –
Lembaga rindu belahan sepi
dalam batu-batu nurani
dan selepas kata sepanas jiwa
ke dalam hati kubaca cinta
– Sudah leleh semua
tak ada tersisa! –

Pariaman 1977/Jakarta 1998

Surat Pendek dari Gudang Peluru Dayeuh Kolot

Masih kurasakan dengus malam
dalam cahya matamu, Neng Berdendang dengan angin dan selendang mayang tentang negri yang terbakar dendam

“Harus diselamatkan, Neng, Harus diselamatkan!”

Suara sendiri menggaung dalam subuh
tentu engkau rasakan langit hitam negri ini akan luruh. sebentar nanti langit perak gemerlapan

akan tumbuh, Neng, akan tumbuh

Perlahan sekali, subuh kutembus
antara percakapan rumput-rumput dan angin antara bayang-bayang dan selendang mayang di leherku dan wajah
bunda pertiwi dalam dada Langkahku semakin tertuju ke Gudang Peluru

Tentu engkau mengerti,
langkah demi langkah berbagi antara kau dan bunda pertiwi

Perlahan sekali, kawat berduri kutembus
antara kantuk serdadu-serdadu penjaga dan nafsu ingin segra kembali padamu

Dadaku semakin busung ketika menangkap senyummu mampir menggoda dan bunda pertiwi bertanya-tanya dalam
ruang dada tentang arti gelora dalam perjalanan sejarah mendatang

Perlahan sekali, merayap sunyi sambil kugenggam granat dan menikmati harum rambutmu masih terasa dalam
selendang mayang berjalan menyusur pagi yang hampir tiba : Adakah engkau di sana mendengarkan kisahku,
Neng?

Detik demi detik: Waktu berjalan

Dalam sudut kepastian dengan granat di tangan panas kugenggam dan picu telah dilepas. Ketika ini semilir
bayangmu makin menggoda Ingin saja kukembali dari Gudang Peluru dan datang padamu untuk mengajuk
waktu-waktu tersisa

“Tidak, Neng
Kita tebus kemerdekaan dengan menggadaikan cinta kita pada ladang-ladang mesiu musuh!”

Dan kita tanam kemerdekaan dalam dada atas setiap jengkal negri ini dan kita siram dengan darah dan keringat,
agar tumbuh, Neng, agar selamat”.

Lambaian tanganmu, ketika melepasku pergi
perlahan terasa Mungkin juga seribu pemuda merasa ketika berpisah: Mengosongkan Bandung!

Dan granat ini semakin mesra bercanda, Neng
sambil sayup-sayup membakar tanah selatan

“Selamat tinggal, Neng, semua ini untukmu!
Aku rela”

Tanganku perlahan
tapi penuh kepastian dan tenaga. Granat itu kulepas Granat itu melayang di udara Berhasil kulempar! Granat itu
lepas! Granat itu melayang dengan anggunnya. Menembus subuh menerkam sasaran! Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!

Bunga api di pinggir subuh di sisi pagi
di tepi Bandung Selatan Mataku tak pernah lupa Granat itu meledak! Gudang Peluru itu musnah! Gudang Peluru itu
musnah! Bergelegar suaranya di Bandung Selatan

Aku puas, Neng, aku puas sekali.

Tidakkah engkau lihat semua itu dalam senyumku?

Sekarang aku ingin segra kembali padamu, Neng
Ingin kutuliskan kisahku, ingin kuceritakan pengalamanku dengan selendang mayangmu dalam wangi rambutmu
dengan seluruh getar jiwaku menatap untukmu, Neng

Dan langkahku semakin ringan, Neng, semakin ringan berjalan menujumu. Dan, O, siapa yang terbaring itu?
Wajahnya hancur, tubuhnya luluh tak dapat dikenal Darah berhamburan di sana-sini Tapi aku kenal selendang itu,
bukankah selendangmu, Neng?! Bukankah selendangmu yang kupakai, yang melingkar di leher tubuh itu?

Langkahku semakin ringan dan semakin kasat
Sekali terbang dan sekali terbenam

Dari balik mentari
Kusimpan salam untukmu, Neng!

Bandung 1983
Alun-Alun

Suara kita tak pernah lagi ramah
dibanding tahun-tahun sudah
Antara kita ada segaris batas
menerkam baris-baris getas
Tangan kita tak pernah lagi dapat berjabat
sambil menaburkan hasrat
Kita tak pernah lagi dapat saling peluk
dan kau kucium pelupuk matamu
Kita selalu sibuk dan selalu sibuk
sambil kita selalu kembangkan kidung rindu
Perlahan kita semakin menua
mendekati puing-puing
kembali ke asal perjanjian kita
dengan segala macam hati yang geming
Kita terasa begitu jauh
kendati kita satu flat dan dipisahkan selembar dinding beton saja!

Bandung, Januari 1987
:
Di Balik Jendela

Orang berdua di balik subuh
mandi siraman cahya mentari pagi Ketika jalanan masih lengang dan gigitan dingin mendera sumsum Orang berdua
menjala waktu

Sehabis rona merah sepinggir langit perak
kita habiskan sisa mabuk menembus kelam Lepaskan keasingan diri dalam cengkraman sumbu bumi. Hampa Sehabis
katak-kata lepas tanpa suara

Orang berdua duduk menunggu
di balik jendela Kita menatap waktu

Bandung 1987

Gelisah

Bahasa angin. Bergerak dalam rasa
simpan gemerisik daun Bahasa sungai. Bergerak melanda batu-batu kali Bahasa angan. Bergerak jebak rasa siapa
pun Bahasa sangsai. Bergerak melanda datu-datu hati

Angin
mana angan yang kau terbangkan Sungai mana sangsai yang kau alirkan

Bahasa diam. Memacu
gerak ragu Bahasa cinta hanya milikmu!

Bandung 1987
Rumah Tua

Kerinduan akan suara nenek menceracau. Kembali
menyulam di kursi goyang. Sekali-kali lepaskan tatap lewat kacamata yang melorot. Kali ini semua jadi bangsi
memanggil-manggil. Aku lindap

Jauh. Keterasingan dinding tembok bisu. Sepi
begini mencari kembali rumah tua. Tak juga dapat

Kembali ke kota kelahiran. Menjenguk isi hati
berkaca dalam bolamata nenek. Dan berangin-angin sambil melagukan kisahku. Semua jadi lekat. Semua

Masuk ke dalam. Melangkah ke tempatan rindu
Semua belum berubah. Kecuali nenek tidur dengan tenang di samping halaman. Bernisankan batu sunyi. Batu kali
Semua tak lagi bicara apa-apa. Sepi seribu kali lebih terasa malam ini

Bandung 1987
Matahari

Siang. Aku jadi buta dalam pelukkan rajahari
setelah seribu malam berjaga-jaga Lembar waktu. Aku berjalan meraba-raba di antara sekat kota. Keringat hari ini
membuat aku hitam. Tambah hitam di siang hari

Matahari dengan gigi waktu
mendera orang bisu. Orang diam. Siapa pun tak pernah tahu gagu jadi permainan

Matahari dengan gigi waktu mendera orang bisu

Aku tak bisa tinggal diam setelah berjaga-jaga
dalam seribu malam. Hari ini bukan permainan

Matahari. Kubur waktu
jadi matahari. Keringat tak bisa diamkan nurani bila kelam menyibak malam. Nanti sepi. Lari ke balik waktu sia-sia

Siang. Aku jadi buta dalam pelukan harapan

Bandung 1988
Di Depan Bulan
Di Tepi Saguling

Angin bergerak ke daun-daun
mengarak musim bertahun-tahun Di sini air menangkap pantul kilat malam hari sambut sepi yang jatuh ke dalam
danau Ke mari Rasakan kata-kata yang meluncur sendiri menyibak riak hidup. Semua. Galau! Embun turun basahi
udara Waktu. Titian tak pernah henti bagi orang dalam perahu. Dalam topi lebarnya menunggu. Siapa tahu dapat
ikan besar? Nasib. Semua orang boleh saja gusar kalau permainan kayuh semakin tidak menentu lagi Diam biarkan
air dan angin berkaca di depan bulan dan kita nikmati dari tepi Saguling

Bandung 1988

Lelah. Mungkin nafas tak lagi bisa
kurangi rasa. Berat langkah untuk bangkit ke depan. Apa masih perlu bergerak saat ini?

Jarak dan batas
tak pernah kurang. Kita duduk sambil rasakan asin keringat sendiri Lepaskan baju. Telanjang berkaca pada  waktu
Sampai di mana perjalanan yang telah kita lampaui?

Banyak. Semua
tersimpan sambil menghitung untung-rugi Kapan kita akan sampai?

Semua menunggu
Sedang jalan masih juga jalan yang dulu.

Bandung 1988
Berumah di Tepi Sungai

Dari dalam dinding kaca rumah di tepi sungai
menghampar rona potret rumah-rumah kumuh milik pekerja yang banting tulang sehari semalam untuk
menundukkan kehidupan ibukota Dari beningnya cermin ini Aku berkaca pada angan-angan yang bermain pada riak
air tengah hari ditemani alunan musik ‘compact disc’ Aku merasakan tinggal dalam kerangkeng!

Aku rindu kembali ke ladang masa lalu
yang berderap setiap waktu untuk berpacu

Di sini, di rumah kaca di tepi sungai
tidak ada angin cuma belaian ‘air conditioner’ bercampur asap rokok dan berhitung cermat untuk melangkahi
pertarungan demi pertarungan sambil berharap mengibarkan bendera kemenangan

Sungguh, dari balik kaca di rumah tepi sungai
dari kamar yang terletak di lantai 20 ini tidak pernah bertanya lagi langkah esok pagi selain siap bertempur dengan
rancangan sesuai aturan

Dari rumah kaca di tepi sungai
sepi memanggil-manggil …

Jakarta, 1994
Sebab

Sebab gelombang mendorong darah
Sungai mengalir deras dalam aortaku Menghilirkan pencalang rindu Mengembara ke samudera hidup Sebab angin
menerpa masa laluku Menerbangkan angan-angan Rasa melayang-layang Berbisik dan berlalu Sebab angin masa
lalu melahirkan gelombang Di tengah samudera hidup Angan melayang-layang Melihat pencalang rindu karam.
Tenggelam

Jakarta, 1995
Mengenang Ayahanda

Terpisah. Kembali jarak memadu resah
Sementara rindu berpacu. Aku pun ragu Setelah waktu berjalan sudah. Aku lelah mencari kata tanpa bertemu.
Beku dalam windu demi windu suaramu membakar setiap jengkal dada tiada kalimat yang dapat merapat. Hati
terjerat Ayahanda Aku ingin sekali mendekat

Kembali jarak dikuak. Barangkali angin sampirkan pesan tentang ragu yang terbentang. Barangkali jalan semakin
lapang Semakin lelah. Semakin lelah. Semua menjadi bimbang dan darah beku menggumpal-gumpal. Semua tinggal
impian Ayahanda Aku di sini masih mengurai seribu cerita dan membaca sejuta makna dalam katamu saat menyisi…

Jakarta, September 1996
Malinkundang

Dalam gelombang zaman, aku datang
meniti masa mabuk di antara bayang-bayang Tinggalkan malam kelam dan sambut pagi cerlang dengan mentari
garang membakar setiap hati yang bimbang

Sudah kujalani rentang malam dalam dengus nafas hitam Sudah kurasakan jalan panjang dengan hati remuk redam
Sudah terbentang ribuan kali rindu yang terpendam Hati tak pernah diam

Begitu rantau jadi tanahku
Begitu rindu aku ingin kembali Makin jauh langkah. Makin bisu Aku kehilangan kendali

Kali ini aku ingin bicara denganMu dari hati ke hati Mengapa sangsi selalu tercipta ketika nurani menatap hati?

Seribunda digjaya telah Kau beri
Tinggalkan masa kelam selusuri kubang pilu dan kini melangkah dengan dagu diangkat ke atas Tinggalkan
masa-masa lapar, dahaga dan papa dan kini sarapan di Le Meridien, makan siang di Tunglok dan santap malam di
Mandarin  Tinggalkan tidur dengan mimpi-mimpi panjang dan kini dunia di atas telapak tangan Seribunda digjaya
telah Kau beri

Aku makin asing sendiri

Kalau pun Kau angkat aku dari kubang sampah menjadi bangsawan  menjadi konglomerat  yang dulu menggoda
mimpi dalam setiap tidur panjang Kalau Kau sandingkan aku dengan Madonna yang dimimpikan semiliar laki-laki di
jagat ini dibanding dulu, Siti Rahmah –bunga desaku– tak sedikit pun melirik sebelah mata padaku Kalau Kau beri
aku Baby Benz yang melaju tenang di jalan tol sedangkan dulu kaki lepuh terus berjalan mengembara ke ujung
rantau Nyaris semua telah Kau beri Namun diriMu Kau simpan jauh-jauh. Jauh

Akulah Malinkundang zaman
Ingin merentak dendam ketakberdayaan Setelah berhasil melepas rantai yang mengekang ratusan tahun Setelah
puluhan tahun dininabobokan barang rongsokkan Jepang Sedang di depan menghadang ribuan kembara alang
kepalang Langkah dalam denyut informasi Jalan panjang pasar global menghentak-hentak Akankah aku melaju
dalam jalanMu?

Aku yang kehilangan Bapak dan dibesarkan Ibunda dalam papa Aku yang besar dalam belaian ombak dukana Akulah
Malinkundang itu yang minta izin Ibunda pergi tinggalkan tanah mencari rantau membangun mimpi dari hari ke hari
Akulah Malinkundang itu yang membangun negeri namun kehilangan diri

Ibunda, aku rindu tanahku!

Kalau hari ini aku kembali
dengan pesawat jet pribadi dan Madonna menjadi menantumu dan Michael Jackson mendendangkanmu dan seribu
remaja mabuk ecstasy sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pesta kembalinya anakmu dan
mendengarkan ‘house music’ melangla Aku tetap anakmu Kalau hari ini aku kibarkan kutang kucalmu yang pernah
kusibak saat menyusu dulu dan sejuta manusia perlahan mengangkat tangan dan memberi hormat Semua adalah
milikmu. Seperti peluru yang siap menerjang, aku datang, Ibunda, aku datang dan semakin dekat. Semakin
mendekat

Akulah Malinkundang itu
yang harus menjinakkan kata dalam kalimat panjang meredam luka yang makin meruyak Akulah Malinkundang itu
yang harus berlayar dalam fikir dan rasa melupakan cinta yang boyak Akulah Malinkundang itu yang kehilangan
perempuan saat mendekapnya dan mencium jalan-jalan. Lengang

Ibunda, dengarlah, Ibunda
Setelah kutinggalkan kampung halaman berikut dukananya Kutimba jalan dalam sejarah diri. Kubakar jiwa
membenamkan papa Kusingkap hidup. Kusongsong hari demi hari dengan dada busung bukan terbenam di ‘fitness
center’. Kuraba sepi yang limbung Aku terseok-seok di kaki lima sambil menjaja barang yang ada di antara razia
dan perburuan Tramtib yang suka menggoda kaum jelata dan menunggu kesempatan hidup naiknya roda Ingin
kurasakan luka panjang ini nanti, saat derai tawa membahana Dari waktu ke waktu dan menyisihkan laba demi laba
serta berani menerima risiko lebih tinggi. Aku meniti tangga Perjalanan memang bukan sebentar seperti lautan luas
mendekap sang kapal layar dipermainkan ombak dan angin dipermainkan kehendak dan ingin

Akulah Malinkundang itu
yang masuk bangku perguruan tinggi sambil berdagang kaki lima mempertaruhkan ijazah untuk memutar roda zaman
Akulah Malinkundang itu yang terlunta-lunta dari kantor ke kantor merasakan realitas: Tiada berarti selembar ijazah
untuk bekerja seketika merobah hidup tinggalkan papa Akulah Malinkundang itu yang bergelut dengan keringat dan
airmata menaklukan ibukota dan segala permasalahannya untuk membangun istana rindu bagimu, Ibunda!

Kalau malam ini, Malinkundangmu terdampar di Hardrock Cafe Percayalah, tidak akan pernah kujamah ecstasy yang
tak pernah kau mengerti namun semangat dan jiwaku terus mengembara entah ke mana. Tak berhenti Kalau malam
ini, Malinkundangmu tampak di layar TV dan seribu wartawan bertanya ini-itu sambil sebarkan gosip Percayalah,
Malinkundang itu anakmu Bagaimana malam ini kita duduk bersama di pinggir kolam Hotel Horison sambil menikmati
‘seafood’ dan cerita panjang tentang pasar bebas Kita bisa tukar pikiran bagaimana meninggalkan industri tekstil
yang penuh barikade kuota ekspor dan masuk ke dalam jantung komputer Boleh saja percaya Naisbitt atau kembali
ke para normal Jayabaya  dan orang-orang Jawa setiap hari membangun mimpi dengan mimpi dan mimpi-mimpi
Percayalah, Malinkundangmu akan kembali…

Akulah Malinkundang zaman
bukan lagi pakai jeans belel dengan T-shirt kucal dan mengendalikan Hardtop tapi pakai tuxedo dengan sepatu
Bally mengkilap dan turun dari Roll Royce Akulah Malinkundang zaman yang berani melepas sebagian saham
perusahaan ke pasar modal dan memainkan dana demi dana untuk melahirkan dana dan dana lagi Akulah
Malinkundang zaman yang berfikir dengan prospek dan mencium setiap gerak langkah keadaan sambil
mengolahragakan jantung setiap waktu berdetak memacu atau tenang-tenang saja sambil menghirup nafas lega
karena cinta pada kehidupan bukan pada perjudian Akulah Malinkundang zaman yang berladang di berbagai sektor
disebut-sebut sebagai diversifikasi dengan seribu eksekutif muda bernaung di dalamnya dan kesempatan cuma
sekali datang selebihnya mimpi gelap yang tak pernah sudah Jadi, ambil dan menang atau kalah sudah biasa dalam
pertarungan

Saat semua sudah di tangan
Kini aku pulang Setelah gelombang datang dan berenang di antara debur ombak kemudian pergi menghilang Saat
semua sudah di tangan Kini aku pulang karena berjalan bukan sekadar di padang perburuan Cuma ingin kuburkan
rindu yang terbakar Saat semua sudah di tangan Kini aku pulang

Ibunda!

Jakarta, 1996

Lagi-Lagi
 titip salam buat Bill Clinton

Lagi-lagi tangan-tangan Yankee menorehkan kehebatan di antara junta yang papa di Irak Selatan Beginilah polisi
dunia ambil bagian Seberapa bisa bicara 27 rudal AGM-56 dan Tomahawk yang terkendali menjelajahi sasaran
berjarak jauh dan seberapa bisa terdengar tangis perempuan dan anak-anak setelah dentuman demi dentuman
menyapa tanah Sadam Hussein Barangkali lewat ‘rally-rally’ kampanye yang panjang dan suara serakmu, Clinton
Ada suara tangis perempuan dan anak-anak Yang jelas, suara itu bukan suara-suara Yankee manis! Sederet
panjang alasan dapat dipaparkan dari meja perjamuan penuh cocktail dan brandy untuk membumihanguskan
ketidak-berdayaan (Mengapa B-52, kapal Shiloh dan Laboon tidak banyak bicara saat pembantaian ras di Bosnia
sana?) Seberapa banyak air ludah tumpah mengumbar janji untuk mendapat kepentingan pribadi, memperpanjang
waktu di kursi kepresidenanmu? Jika miliaran manusia dulu menggantung harap padamu, Clinton agar lebih
manusiawi ketimbang George Bush dan dunia lebih demokrat Kini wajahmu mirip kayu congklak yang biasa
dipermainkan anak-anakku Terlalu banyak lobangnya, Bill Lupakah dirimu, Bill George Bush sudah frustasi
menghadapi Sadam Hussein dan engkau pun tidak pernah bisa menangkapnya, bukan?! Ayolah, Bill Kita semua tahu
Sadam Hussein kelimpungan cari obat-obatan dan makanan setelah hukumanmu yang terlalu memberat-beratkan
Lantas, Bill dari ketidak-berdayaan Sadam Hussein itu Seberapa lagi kebinatanganmu tumbuh setelah hak asasi
manusia untuk hidup dibumihanguskan oleh suara serakmu. Ayolah, Bill pamer unjuk kekuatanmu bukanlah di
ladang-ladang Irak Ikutlah olimpiade dan berlombalah di sana karena engkau bukanlah wasit dunia

Jakarta, September 1996
Kepada Aria Kusumadewa

Banyak sekali mimpi berkubur dalam tidur. Panjang
perjalanan hanya lorong lengang tanpa orang Setiap kata ingin dieja dalam bunga malam penuh busa dan kelu
menjadi warna setiap pertemuan Barangkali bukan sekadar mata dan tali kasih perempuan yang menjura-jura ketika
terjaga. Rasa menjadi bayang-bayang selepas mentari datang Kemudian dada lapang songsong langkah raja siang

Baiklah. Kita tidak bicara lagi tentang Jepang atau Padang yang mengusik malam menjadi bualan karena rindu
kembali pada nurani Ketika sepi menyisi perjalanan terekam dalam igauan antara kata dan lubang kamera tersimpan
tualang jalang

Kalau malam ini mereguk kopi pahit dan dingin
dengan mengepulkan asap mimpi lewat rasa dan mata angin Kita luncurkan bualan lain dalam permainan igauan
karena cinta tidak selalu perempuan dan perempuan

Karena bahasa adalah rasa
yang rahasia selalu terjaga

Jakarta, September 1996
Kepada Tuan Marzuki Usman

Anggap saja aku duduk di depanmu
melontar tanya yang selalu mengganggu tentang Abu dan Badu, dua orang di antara 190 juta penduduk Indonesia

Abu itu ‘wong cilik’
Kerjanya sektor informal tidak terkena objek pajak Penghasilannya, pas-pasan UMR pun tak berkutik Berkediaman di
rumah gombal Kata orang, tipe RSSS alias Rumah Sangat sempit Sekali

Badu itu konglomerat
pemilik ratusan perusahaan Sektornya sektor formal dari hulu hingga ke hilir Dari PPhnya sudah ketahuan Termasuk
Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar Berkediaman di Pondok Indah, lagi

Saat membandingkan antara Abu dan Badu
Selalu tanya mengganggu Siapa lebih kaya di antara keduanya?

Coba bandingkan saat membeli beras
Keringat habis terperas Satu hari pas Abu cuma sanggup beli beras Satu kilogram Harganya Rp 1.500 di pasar
Namun Badu bisa membeli saat batang padi masih menghijau di sawah dan diborong berhektar-hektar Cuma
harganya Rp 500 per kilogram

Coba bandingkan lagi saat membayar pajak
Anak-anak Abu ingin menonton Pergilah Abu ke toko membeli televisi hitam-putih Dalam kuitansi tertera PPn 10%
Namun Badu saat oknum mengambil SPT-nya di rumah Badu Menyelipkan pelicin sehingga PPhnya menciut sekecil
mungkin Begitu pun termasuk Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar

Coba bandingkan lagi soal waktu
yang kata orang berharga itu Bagi Abu pergi ke Tanah Abang untuk berdagang Bisa menghabiskan berjam-jam
karena keenakan berhimpitan dalam bis kota di tengah kemacetan ibukota Namun Badu pergi ke kantornya di
bilangan Segi Tiga Emas Jakarta Cuma 15 menit dari rumahnya menggunakan Baby Benz lewat jalan tol, tentunya

Coba bandingkan satu lagi soal waktu
dalam urusan penyelesaian KTP Bagi Abu mengurus perpanjangan surat sakti itu, yang selalu ditanyakan Petugas
Kamtib, yang tarif resminya Rp 1.000 Oknum-oknum meminta bagian sampai Rp 30.000 dan selesainya sampai 6
bulan Namun Badu cuma keluarkan dari kocek Dua lembar Rp 50.000-an dan KTP baru diantar ke rumah 2 jam
kemudian

Coba bandingkan lagi soal biaya perawatan
Bagi Abu, kalau bisa beli mobil Pasti mobil kelas Mazda Kotak Sabun Yang tahunnya kelewat tua dan setiap 3 bulan
langganan bengkel menghisap dana perawatan lumayan besar untuk kantong Abu Namun Badu sudah
menjadwalkan Setiap awal tahun beli mobil baru dan akhir tahunnya segera dijual Biar tidak masuk bengkel,
katanya

Coba bandingkan lagi soal kesanggupan berutang
termasuk membayar bunga Bagi Abu memasukkan anaknya sekolah ke perguruan tinggi Memang cita-cita merobah
nasib Cuma Abu rela pergi ke Perum Pegadaian Menitipkan agunan senilai 4 kali pinjaman dengan bunga 4% sebulan
dengan masa hangus 6 bulan Namun Badu saat membangun perusahaan barunya, kata orang, diversifikasi usaha,
datang ke bank cuma bawa studi kelayakan tanpa agunan dan kredit ratusan miliar mengucur dengan sukubunga
paling tinggi 20% Malah seringkali negosiasi, lebih rendah lagi dengan masa pengembalian sedikitnya 5 tahun Kalau
pun macet, utangnya bisa dihapuskan

Coba bandingkan lagi soal memanfaatkan teknologi
Bagi Abu mengabarkan berita pedih kepada ayahnya di kampung tentang kematian adiknya saat tertangkap tangan
mencopet, yang paling cepat pergi ke Wartel dan menginterlokal ke Kantor Kecamatan, sekitar 3 KM dari kampung
halamannya, karena telepon baru sampai di sana, sebagai salah satu keberhasilan IDT Sambil terbata bercakap
dengan ayahanda matanya mendelik ke arah digit demi digit yang bergerak Angkanya sudah ratusan pulsa Namun
Badu saat pesan kiriman barang dari luar negeri cukup dengan masuk ke internet dan pulsanya cuma puluhan

Ya, tanya itu selalu menggoda
Siapa sebenarnya yang lebih kaya di antara keduanya…. Abukah? Badukah? Ya, anggap saja ini bukan
omongkosong di antara kita

Jakarta, 1996
Berita Pagi

Potret headline pagi ini:
Kuburan Massal sekitar 3.000 hingga 8.000 mayat Muslim Bosnia dibantai pasukan Serbia pimpinan Ratko Mladic di
Srebrenica dalam perang pendek tahun 1995

Aku menggigil membacanya. Sungguh!

Dikabarkan juga
ada upaya-upaya menghapus jejak pembantaian sekitar 3.000 mayat Muslim di Bracko, Utara Bosnia dengan
memasukkan mayat-mayat itu ke truk-truk berpendingin dan diangkut ke bekas pabrik daging, Bimeks, produsen
pakan ternak

Masyaallah!

Bagaimana mata para pemimpin PBB masih tertutup
saat melihat padang pembantaian ini Padahal setiap detik dalam sidang PBB selalu penuh dengan busa tentang
hak-hak asasi manusia

Ya, Allah
Bukakanlah mata mereka

Jakarta, 1996
Sajak Oktober

Hidup bukan dari kartu di atas meja, kendati sorot mata menyala-nyala mempermainkan nafsu dengan segala duga.
Kita sudah tidak bisa membaca tanda-tanda. Setiap kali lewat mengangkut mimpi ke padang gembala Biarlah
sudah! Tidak ada persahabatan atau hiasan kata-kata mutiara. Selain serapah dengan rasa paling transparan.
Tanpa basa-basi Hidup bukan ladang sangsi, kendati semua tidak ada yang pasti Bayangkan. Begitu banyak
angka-angka bercerita tentang seribu kisah dari sejuta manusia yang terdampar di pelabuhan meja. Kuasa jiwa tak
pernah terjaga dan hati semakin tipis. Tidak ada yang bisa membaca lagi Kata-kata sudah musnah Kita hanya
melangkah dari suatu ladang sangsi ke ladang sangsi lainnya Semakin jauh Semakin jauh

Jakarta 1996
Ketika Kata

Seperti kijang masuk rimba, kutemukan kata di setiap sudut senja yang datang menghampiri matamu. Seperti
gerimis sehari menghapus setahun kemarau galau, kudekati kata di dalam matamu yang mengatup ketika senja
lewat begitu saja. Seperti rimba kata yang menyesatkan dalam kembara hati dari sudut matamu dan melangkah
ringan di antara pohon-pohon dan bau tanah  Seperti gerimis yang membasahi hatimu setelah setahun galau
menunggu langkah yang tak pernah kembali dan sudut mataku terpaku padamu dari balik istirah di antara
daun-daun lebar dan suara-suara hewan. Seperti engkau masuk rimba  melupakan kosmetika dan stocking, aku
semakin heran atas penderitaan  yang dipaksakan namun kau senangi. “Aku masuk rimba bukan  seperti kijang
masuk kampung yang bingung,” katamu  dalam nada penuh yakin tanpa tedeng aling-aling. Seperti
sehari  tangismu menghapus canda setahun yang manja dari balik wajah itu,  aku semakin heran karena sorot mata
dan kata-kata semakin misteri  ke balik airmata. “Aku semakin mengerti makna tangis sehari  di antara senyum
manja dan peluk rindu setahun penuh,” kataku  sambil mencari-cari kata yang paling tepat untuk mengajukmu.
Sungguh!

Jakarta, Oktober 1996
Sebaris Gerimis

Sebaris gerimis
membasahi kembara panjang Seorang tualang menjelang petang belum juga mabuk mereguk waktu dalam sepi
meniti jarak  dan menggali mimpi lagi. Masuk ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta Ketika sukma
menembus sela-sela hujan Bisu pun beku Aku berlari menyelimuti dingin dan kembali mencari-cari ke dalam hati, ke
dalam jantung Engkau sudah jauh berlalu Sebaris gerimis menetes dari balik rambut yang basah Mata berpendar
menatap bayang-bayang menghilang dan aku di sini Sendiri

Jakarta, 1996
Dari Jauh

Mungkin seperti kereta pergi meninggalkan statsiun dan melewati ladang panjang penuh bunga matahari Aku
terjaga dari kantuk berat dan menatapmu  sebaris tampak dan sebaris hilang

Waktu terus berjalan. Menahun
menuju hari ke tiga puluh membakar sangsi Engkaukah yang melangkah sebarkan rindu dan mendekat? Seribu mata
mengiring desah kereta dan luka terbelah seribu Aku rasakan basahnya udara pagi dalam nafas hari petang

Sungguh!

Kalau pun malam tiba
Rel panjang ini tetap dingin di sandaran balok-balok kayu bercerita panjang tentang kedatanganmu dari jauh. Dari
jauh Di mana kata tak ada lagi Bangsi kehidupan sudah lama membisu

Aku berdiri merasakan irama gesekan roda dengan rel sambil mendekatimu dari ladang-ladang bunga matahari

Begitu panjang waktu mengurung
Begitu rindu mata menawarkan sepi

Jalan panjang terbentang. Sendiri
Jakarta, September 1996
Antara Cawang-Cikampek

Semua datang seketika mengantarkan waktu dan menyimpan rasa. Kaku menjalar di ruang antara. Menyisakan
canda dari dalam kalbu. Rindu menyebar ke setiap centimeter kubik darah dan memancar lewat mata. Jauh
Lengang. Barangkali musik menjadi teman dan mulut selalu menyebut: Allah! Allah! Allah! Sebelum warna membiru
memerangkap waktu menjadi kaku dan rindu memancar jauh berteman lengang. Sungguh! Semua datang
mengantarkan rindu

Kusebut lagi namaMu:
Allah! Allah! Allah

Jakarta, 1996
Kepada Alfatihah RMNSPM

Setiap hari mengejar bayang-bayang tanpa sudah. Waktu melangkah dengan pasti menggunting setiap jejak.
Sejarah tersimpan dalam-dalam. Maut pun menegur sisa rindu Ketika malam hampir datang dan bayang-bayang
terbenam dalam kelam. Aku melangkah patah-patah Melihat jejak dalam sejarah: Hitam Barangkali aku ingin duduk
ditemanimu dan bacakan kisah panjang tentang cahaya sambil memijat kaki memecahkan tumpukan asam laktat di
aorta Sungguh! Ketika malam menjadi bunga. Api membakar sejarah Hati terpanggang. Wajah lembam dan
menyerah Barangkali aku benar-benar lelah

Ananda,
bacakan doa dalam setiap  —

Related posts

Leave a Comment