Sajak-sajak Tomita Prakoso

DENGAN MANNEQUIN
(sebuah fragmen telenovela)

–> DN

Aku tak tahu mengapa mesti jadi saksi
bagi kebebasanmu sedang dalam diriku sebuah ilusi
telah kusiapkan untuk mengikatmu, dengan janji
kau akan lebih bebas nanti

Aku pun tak tahu apa kita telah sama jadi penyaru
(yang penuh dengan gincu !)
Tak tahu pula mengapa kita bisa terlupa pada
nama-nama yang tertera di tugu jarak kita

Tapi aku tahu
tak ada jiwa penyendiri itu
dengan sajak dan lagu
berkejaran dalam tubuhmu
Tak juga kau berjaga
; di mercu yang terpancang pada
sisi yang rindu dalam hati,
; di tempat kudirikan tugu dan
lemparkan wajah
ke tengadah tinggi

Bukankah kau benci kesendirianmu ?
Meski kau membayangkan masquerade
ketika di balik spotlight tuju mata-mata jalang itu
ingin mencuri sekerat tulang rusukmu ?

Kamarmu yang sendu adalah tempat segalanya pasti kembali
Kau adalah legenda dan kultus bagi sekoleksi boneka Teddy
Hari-hari yang berlari, air mata, … perasaan bluesy,
segalanya tercatatkan pada dinding sebagai diary.

Time is warping, ketika tiba-tiba
telpon berdering dan kaukabarkan bahwa
Kau ingin aku memanggilmu dengan nama warna
Tapi, aduuuuh … sungguh !
Ketika itu adalah malam
Dan segalanya terlanjur jadi hitam

Tubuhku luruh dalam pejam pejam mata
Bisakah kulukis wajahmu dengan kata-kata
pada kanvas ranum hati ?
ketika masih ada senyummu membawaku terjun bebas dari
gunung tempat kumendaki ?

Dengan mannequin, dengan mannequin !
Dalam cermin, pada yang mungkin
Kelebat bayang orang-orang di jalan
Sekejap pandang yang lalu lalang

Barangkali kau akan berkata dengan yakin :
surga adalah orang lain

1999 – 2000
A MOMENTARY FRAGMENT
untuk P.

Di sebuah art gallery
Kau mengajakku untuk segera pergi
ketika tak kau temukan rupa kepastian
yang dengannya selaksa kenangan lama
bisa kau jadikan hiasan rumah kita.
Rumah kita, nanti.
Di awan.

“Itu hanya improvisasi,” katamu.

Tapi selalu kubayangkan
betapa ‘kan lebih abadi kalau semua dekorasi
kita bingkai dengan impian sendiri

Dan di sepanjang jalan sama kita lihat
semua pilihan rawan
Lanskap art-deco yang bertingkah dengan zaman
Kain lukisan pemandangan berlatar warna hitam
Jajaran boneka kesepian di jendela pajang

Hari keburu jadi muram
Aku tak tahu kalau kau sudah tentukan pilihan
Diam-diam

Di restoran tua
Aku tahu kau tak pernah ragu
untuk segala hidangan hidup pada menu
meskipun aku tahu benar
kau tak pernah sungguh lapar

Kau bilang, “Hanya pengisi hambar.”
Tapi jadi aku yang selalu kangen

Lalu aku berjalan seperti dalam slow motion
ketika kusadari bahwa akhirnya
kita hanya foto lama hitam-putih
dengan sentuhan warna sepia

1999
INGIN SEPERTI MALAM

Chill, is it something real ?
Or the magic I am feeding off your fingers
                  (Come Undone – Duran Duran)

Cepat bisikkan padaku cerita lain
seperti yang nampaknya selalu kau jujurkan
pada yang membawamu :
Angin.

Meski selinap itu terus mencegahmu
untuk berterusterang
ketika kau isyaratkan bahwa
kabut gunung telah turun bersama hujan

Kukira itu cerita sedih
ketika kau tak juga menyahut

Kalau begitu cepat katakan
mengapa kau terlalu dekat bersarang
di peraduan di mana kupikirkan letaknya maut
Jangan melawan … !

………………….

Aku ingin seperti malam
Yang tak pernah bertanya
atau memaksa

22 Januari 1999
A LOVE AFFAIR WITH AN ALIEN

Mencintaimu berarti membakar diri
ke dalam tungku yang kubuat dari
runtuhan rindu. Abunya kutorehkan
ke dinding waktu

Untuk pertama dan selamanya
ingin kualamatkan ciuman panjang
sebelum desir-yang-tak-luput
menjemputku di akhir,
dari celah dingin pagi yang
menusuk di gigir

Percayalah, penerimaanku akan sedamai seperti
bumi seusai dihempas dikoyak badai

Bukankah kau sendiri tak bisa memilih
Terus berharap atau menjangkauku lagi
dengan isyarat yang paling apatis
Apalagi menangis ?

Karena barangkali aku adalah kupu-kupu bagimu,
yang kautangkap dan kaulepas lagi di dalam hati
Atau seorang protagon tragedi
dari drama tentang Lazarus dan dunia Sufi

Tapi tak juga kusudahi.
Tubuhku yang terus memekikkan namamu, atau
cembung hati … karena jejak dan bayangan berlalu

Kurenggut saja “Kita Yang Surgawi” itu
Lalu kuhirup kunikmati kefanaannya kini
hingga tak ‘kan lagi … kumenagih-nagih janji !
Mei 1999

 

ANOMALI SIKLUS
(dari sebuah mimpi)

Adakah,
Nuh telah melabuhkan jiwa-jiwa resah
pada daratan tak tercatat di peta sejarah ?
Sejak lupa ninabobok dan pelukan bunda,
kami begitu telanjang … begitu tak berdaya.
Lalu rindu menyerbu kami seperti air bah biru
mewarnai apa saja yang kami jamah
dengan rabaan rasa yang paling haru

Aku ingat mencintainya
seperti tanah gurun pasir
yang menyerap dan menguapkan air.
Ke mana saja.

Sedang kukira Ia sandarkan
kengerian, kesayangan, dan kenikmatan
pada seorang asing
dari negeri ‘simsalabim’.

Kabar apakah yang kausiarkan
pada Sang Maha Syahbandar ?
Bahwa kau adalah Adam kedua yang
akan memulai lagi segalanya ?

Kami telah banyak belajar bahwa
Di tiap kegamangan pada jarak yang merentang
dengan sebuah keinginan yang paling dalam
kami hanya bisa berdiang pada udara dan jeda itu :
Ada dan tiada, cinta atau luka

………………

(dari lelap, aku terjaga.
Ketika seluruh tubuhku suntuk
dengan doa)

Barangkali nanti aku harus menguap,
dan melayang dengannya seperti asap
Atau berarak bersama, seperti mega.
Membiarkan biru, seperti apa adanya
Maret – Mei 1999

Related posts

Leave a Comment