Sajak-Sajak Wina Juliet Vennin

IJINKAN

Ijinkan aku tumpahkan semua beban dipundakku
Bukan karena aku tidak mensyukuri RahmadNya
Aku hanya ingin berbagi

Ijinkan aku rebahkan diriku didadamu
Sembari kukatakan semua luapan isi didadaku
Untuk sekedar meringankan luka ini

Ijinkan aku menangis
Walau itu membuatmu terluka
Tapi kupercaya kau tetap membasuh luka dan tangisku

winna’
19  01  2000
PERJALANAN MENUJU PURI DI UJUNG PELANGI

Melintasi nuansa warna
Mengapai puri diujung pelangi
Setapak demi setapak
Kulintasi nuansa warna pelangi
Semburat merah
Serasa jiwa bergolak
Nyala api tak kunjung padam
Tanpa sada ujung rambtku terbakar
Dengan gerakan secepat kilat
Kuguyurkan air dan kupotong rambutku
Entah potongan rambut model apa yang kini kumiliki
Aku tersenyum sendiri
Kulanjutkan perjalananku dengan membawa sepercik kebahagiaan
Kubilang pada hatiku takkan lagi kuberbuat ceroboh
Sketsa jingga mulai kujalani
Dengan penuh semangat dan tekad membaja kutelusuri
Disekelilingiku dipenuhi kemilau intan
Segera kuambil intan-intan yang sanggup kubawa
Namun ditengah perjalanan ….
Tiba-tiba intan-intan itu raib entah kemana
Ternyata karung tempat intan itu berlubang
Karena terlalu banyak isinya
Kembali kulanjutkan perjalananku dengan kebahagiaan tersendiri
Dan kutinggalkan karung yang telah kosong itu
Rona kuningpun terlihat
Kuberlari-lari kegirangan
Menari-nari penuh suka
Semakin kupercepat langkahku
Aduh…. Tiba-tiba aku terjatuh
Begitu cepat kakiku melangkah….
Segera kupijat dengan balsem pemberian ibu
Sambil terseok-seok kukembali berjalan
Asaku tak jua padam tuk gapai puri di ujung pelangi
Kurasakan bahagia dalam rona kuning
Penuh semerbak harum bunga matahari
Takkan kubiarkan kegembiraan terlalu dalam
Hingga lupakan semua hal
Hamparan hijau dedaunan kurasakan
Sejukkan jiwa yang galau
Dedaunan serasa dicumbu embun
Kupu-kupu bermain merayu-rayu
Karena aku sangat jail
Kuambil sebuah kupu-kupu
Namun……
Entah darimana datangnya lebah
Sejurus kemudian menyengat tanganku
“Padahal aku nggak menganggu sarang lebah itu….
Tapi….. darimana lebah itu muncul……
Apa…. Lebah itu sahabatnya kupu-kupu ya ?”
Tanyaku pada aku sendiri
Kuambil daun melati
Kuusap-usapkan pada tanganku yang bengkak
Kurasakan harum semerbak wanginya
Diriku dipeluk oleh alam nan syahdu
Begitu tenang….
Rasakan kebahagiaan mencumbuku
Takkan pernah kujahat pada alam yang telah memanjakanku
Takkan pernah kuberbuat salah meskipun itu cuma kesalahan kecil
Karna kuyakin semua salah pasti ada hukumannya
Sayup terdengar merdu bunyi seruling
Kuterbuai oleh negeri pink
Romansanya memanjakanku
Buat mimpiku melambung jauh
Hingga tercipta ribuan syair-syair asmara
Takkan tertandingi oleh pujangga manapun
Saat inipun kulihat wajahku dalam bening aliran sungai
Begitu cantik tak terduakan
Sayup terdengar puisi-puisi cinta yang lebih indah dari puisi-puisiku
Dan terlihat gambar gadis-gadis cantik yang lebih dari wajahku
“Ah sudahlah…. Toh semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing”
Kutersenyum dan kulanjutkan perjalananku dengan rasa syukur
Atas semua kelebihan dan rasa ingin memperbaiki kekurangan-kekuranganku
Kutermenung dikelilingi sutra unguKembali kumenghayal tentang puri indah di ujung pelangi
Seperti yang selalu nenekku kisahkan menjelang tidur
Kuhanyut oleh kesedihan di masa silam
Hingga tak mampu lagi kusadar tentang keindahan sutra ungu ini
Tanpa sadar pak tua menghapus air mataku
Masih terbuai oleh kesedihan
……
aku membungkam
“Gadis manis bangun lihat sutra-sutra ungu ini begitu indah
terproses dari tangan-tangan yang lembut tapi perkasa”
Aku bangkit….
Sungguh indah sutra-sutra ungu ini
Tapi…. Kemana pak tua tadi..
Kurasakan kebahagiaan dalam kelembutan sutra ungu
Kutakkan pernah hanyut dalam kesedihan lagi
Kuingin gapai semua cita dan cintaku
Kata nenek kalau sudah sampai di negeri biru….
Berarti hampir sampai di puri ujung pelangi
Kebebasan dan kedamaian begitu terpancar
Sungguh ini cobaan yang berat
Tapi kubisa atasinya
Langkahku kian cepat hingga sampai pada deretan bunga-bunga
Semburat warna
Merah…., jingga….., kuning…., hijau…, merah muda…..
Hijau…., dan biru
Bagai seorang putri tiba-tiba bajuku berubah laksana
Cinderella Milenium
Baju yang sangat besar namun pas dibadanku yang mungil
Berwana pink dengan hiasan-hiasan perak
Rasanya bajuku bisa bergoyang-goyang
Kepalakupun berhias mahkota
Seorang pangeran tampan menyambutku
Dan mengajakku kesebuah puri
Tapi…..
Apa yang kulihat…
Sebuah gubug ditengah air terjun yang terdapat bias-bias warna
Dikelilingi bunga-bunga
Gemericik airnya mendekapku dalam kedamaian
Angsa-angsa putih asyik bercumbu
Burung-burung riang beryanyi asmara
Pangeran itu berkata
“Perjalananmulah purimu, dan ini hanya sebagian dari purimu
yang akan kita tempuh berdua
dan mungkin tidak seindah yang kamu bayangkan tapi
kuingin beri yang terindah buat mu”
Kebahagiaan melewati negeri warnapun terlintas di pelupuk mataku
Kini kebahagiaan yang aku rasakanpun bertambah
semakin bertambahnya pengetahuanku
Tentang nuansa warna
Kan kujalani semua hal di puri ujung pelangi
bersama seorang pangeran tampan yang bijaksana

10042000

Sarang Burung

Kutebar senyum pada laut biru di Ujung sana
Kudapati ombak-ombak mungil berlarian
Kuberkicau menyambut mentari pagi
Kuterbang dengan kekasihku
Saling mengusap-usap penuh kasih
……ach….kicauku tertahan
Angin menyebar berita perlahan-lahan
Kadang suaranya terdengar diantara pepohonan
Kadang begitu sunyi……
Musim kemarau masih panjang
“Kapankah kita membuat sarang?
Kapankah kita temukan pohon tempat berteduh?
Yang kudapati hanya gedung-gedung bertingkat
Akankah kita mendiaminya ?
Tidakkah mereka mengusir kita ?
Seribu tanya tanpa jawab?”
Seolah nafas kota menghimpit semua pertanyaan
Kami kembali memadu kasih
Perlahan kami terbang dari satu ranting ke ranting
lain
atau…. bermain-main dari satu awan ke awan lain
meskipun awan-awan itu berusaha mencegat kami
Kami kembali memadu kasih
Suara kepakan kami tertahan…..
………………..
Hilang diterpa angin dan gelombang pantai
Kicauan kami kalah oleh suara gergaji besi
Kembali kami terbang rendah
Ombak-ombak seolah mempermainkan kami
Mencoba kembali terbang tinggi
Kali ini gedung pencakar langit yang menghalangi jalan
kami
Kami tetap berusaha terbang
mengepakkan sayap-sayap kecil kami
Mencari arah mentari
“Kapan kita akan membuat sarang?”
Ombak dengan garang menyergap pertanyaan kami
Kami tetap berusaha terbang
mengepakkan sayap-sayap kecil kami
ditengah musim kemarau yang selalu membuat kami
mengeliat
Mencari arah mentari
dimana menerbitkan kenyataan pada akhirnya Kami
akan bisa menjawab dengan pasti
Kapan Kami akan membuat sarang?
Okt ’99
JuVe

Lantai Dansa Cinderella

Kucoba rebahkan diriku bersama turunnya peri-peri malam
Kucoba hilangkan semua kekesalan dan kelelahanku
Tak jua kunjung bisa
Kuingin malam ini dewa mimpi meniupkan sulingnya ditelingaku hingga memerah
Kucoba terhanyut dalam dekapan sang rembulan

Sesaat datang seorang wanita setengah baya mengajak kupergi
Tanpa kutahu siapa dia
Kuikuti kemana dia membawaku
Tanpa kusadar aku telah berada di sebuah pintu gerbang yang ditutupi sejuta bunga liar
Kubuka perlahan, deritan pintunya membuat nyeri daun telingaku

Mulai kususuri halaman yang nampak begitu tua dan usang
Sebuah pintu lagi berdiri didepanku sekali lagi daun telingaku terasa nyeri

Wouw….
Seperti berada di sebuah negeri dongeng atau rumah
seorang bintang Hollywood
Tapi sayang…. puri yang indah itu nampak tak terawat
Dengan ragu dan rasa takut kucoba beranikan diri memasukinya
Cat-cat merah muda yang menghiasi dinding-dinding
masih memancarkan sinarnya
walaupun sepertinya puri itu sudah ditinggalkan
puluhan tahun
Namun bangunannya begitu mewah dan megah

Tampak sebuah tempat tidur mungil yang indah dihiasi
lampu merah muda
dengan kelambu merah muda
aku dikejutkan oleh sebuah gaun malam yang begitu
indah
Tapi sayang gaun itu terlalu besar untuk kupakai
ditubuhku yang mungil
Tapi entah nurani dari mana yang memaksaku untuk
memakai gaun itu
Terkejut aku ….
Gaun itu begitu pas dan cocok kucapai
bak seorang putri dari kerajaan inggris aku mengaca
pada sebuah kaca yang berukuran
sebesar tubuhku yang dihiasi oleh ukiran yang mahal
yang sepertinya gajiku satu bulan
belum cukup untuk membelinya
Seolah dewi Aphrodite tersenyum padaku
Aku menari-nari kuikuti lantunan musik dansa yang
terdengar di telingaku tanpa pernah kutahu siapa yang
memutarnya
Serasa terlempar ke negeri lain dimana tubuh-tubuh
mungil dengan membawa tongkat bintang dan diatas
kepala dihiasi lingkaran putih mengelilingiku
Aku kembali menari-nari tanpa perduli akan
sekelilingku
Terdengar suara merdu nan sopan
Kulihat pakainnya bak seorang pangeran
pedangnyapun masih berada diballik punggungnya yang
bidang
bajunya yang serba merah muda itu mampu membuatku
tertawa dalam hati
namun kutahan tawaku karena
Tangannya mulai diayunkannya kebawah lalu kesamping
seolah mengajakku memulai berdansa
Seolah dipanah oleh dewa amor aku pun mulai
memberanikan diri berada lebih dekat dengannnya dengan
seseorang yang tak kukenal dan
Dengan sedikit canggung kumulai berdansa padahal
sebelumnya aku tak pernah berdansa
Kuikuti saja alunan musik itu

Tanpa kusadar aku dibangunkan oleh lautan yang
melahirkan surya di ufuk tidur
Aku cuma bermimpi……

winna’


ASA BARU

Kubangun hari ini dengan membawa asa baru
Kutembus langit ketujuh
Kulintasi pelangi

Aku menari-nari dengan bajuku yang kebesaran karena
tubuhku yang memang kecil
Aku berlari-lari kecil seraya mendendangkan lagu cinta
Aku menatap awan dan langsung terbang ke arahnya
Aku menatap langit dan aku langsung menembusnya sampai
langit ketujuh

Kususuri langit dimana aku bisa bermain dengan
awan-awan
Kujelajahi bumi dimana aku bisa berceloteh dengan
burung-burung

Kembali aku turun kebumi
Kutanya angin ada kabar apa hari ini
Terlihat sebuah mata air mengalir begitu jernihnya
memberi kehidupan bagi sawah-sawah nan hijau
Tercium semerbak wangi bunga-bunga di taman

Kurebahkan tubuhku di hijaunya rerumputan
Kupejamkan mataku sambil tersenyum

Kuayunkan kembali langkah kecilku
Aku kembali menari-nari di taman itu
Kurasakan hembusan angin sejuk memainkan rambutku
Kuhirup udara segar itu lalu kukeluarkan kembali

Terima kasih Ya Allah
Nikmat dan karunia-Mu sedemikian besar hingga tak
mampu lagi
kugoreskan dalam puisi kecilku
Rapuh

Perlahan aku bangkit dari seribu batu yang menimpa
tubuh kecilku
Perlahan aku bangkit dari tidur panjangku
Tertatih kuberjalan tanpa tau arah
Tertatih kucari sebuah tongkat bantu aku berjalan
Tertatih aku…

 

CERITA YANG TERPURUK

Disini…
Rintik air hujan jatuh seperti jarum2
Burung hantupun mengigil kedinginan
Dulu…
Ketika dalam dekapan dewi asmara
Aku ingin agar waktu berhenti saat itu
Namun…
Aku tak mungkin terus bersandar pada angin
Mentari menerbitkan satu kenyataan
Bahwa waktu akan terus berjalan
Saat ini…
Kutulis surat buatmu lalu kubakar dalam tungku panas
Gemuruh petir dimalam hari terdengar
Adakah cinta polosku kau simpan?
Tak ada yang menyahut
Hanya gerimis gaib terdengar, dan…
Menyimpan sebuah rahasia kepolosan cinta

Juliet Vennin 1996
[Mepiksa ’96]

Kisah Lara

Kusapu wajah langit perlahan
Kuhitung bintang entah sudah jadi berapa buah

Tertidurnya rembulan dalam belaian angin surga
Seiring menari penaku
Detak jam di kamarku terdengar jelas

Pujanggapun mulai membacakan syair-syairnya
Lama kutertegun tanpa kata
Hanya desah atau sesekali anggukan tanda mengerti

Kugerak-gerakkan jemariku diatas kepala
Menari sayup terdengar gamelan
Layar tlah dibuka
Dimulainya kisah lara dari sudut layar yang terkubur
Nurani diam bagai cacing kepanasan
Dipojok dduk manis beberapa sinden suara merdu
nyanyikan lagu nestapa
Lama terdiam hayati cerita lara digaris tanganku

Cucuran air mata bermuara dikolam nestapa
Terlena dalam timangan duka
Dalam dekapan mesra kabut lara

Lama kumerenung….
Makin kusulut api panas dalam luka yang entah sembuh
entah tidak
Lama kutertegun…..
Masih kusadar lukaku masih meneteskan nanah
Apa bisa ramuan sesedikit itu menyembuhkan luka yang
masih bernanah
Jijik kumelihat luka in

Lama kuhayati arti dari suara merdu sinden
Sesekali kulihat lukaku yang masih bernanah
Seorang ibu tua sodorkan ramuan yang tlah dihaluskan
dengan cobek
Coba minum beberapa pil ini,
Coba tetesi dengan obat tetes ini….
Ah…. Bercak nanah itu tak mungkin mengering…. Tak
mungkin

Apa aku yang buat nanah ini makin menderas
Segera kusingkirkan lalat-lalat yang mengerubungi diri
Obati luka ini….Kuyakin nanah ini dengan ramuan dari
ibu tua itu
Atau dengan beberapa buah pil…. Atau justru dengan
obat tetes itu….
Pasti sembuh ya….. pasti sembuh…. Kuyakin

Kuingin sinden itu mengubah tembang-tembang laranya
Jadi tembang suka dan merindu kasih
Bersama mengeringnya nanah di lukaku
Meski bekas luka tak pernah hilang
Kuingin usir kisah lara ini
Ingin tutup semua layar duka
Akhiri kisah lara….
Sudahi saja

210300

MALAM MENDESAH PANJANG

Aku mengadu kala malam mendesah panjang
Dalam tembang suling kutiupkan sebuah kisah
Aku menangis tanpa perdulikan burung hantu lantunkan lara
Dalam terkaman guntur malam aku mengigil ketakutan

Dalam desahan panjang sang malam aku mengadu
….
Desahannya panjang menyayat pilu
Tubuh mungil malam semakin kurus diterkam siang lusuh
Butiran-butiran bening mengalir di kedua pipi mulus
Badanku makin gemetar, tak henti bicara jiwaku
Hanya bibir yang terdiam karan kata tlah terbutuh

Malam kembali mendesah dalam kantuknya yang panjang
Mata anginpun mulai membuka menutup kelopaknya
Tubuhku makin kaku dan mengigil ketakutan

Aku bersujud
Aku bersimpuh
Deraian air mata bagai aliran terjun
Bibirku kaku
Hatiku beku

Apa jiwaku mati
Sepi….
Malam mendesah panjang dan lirih
…..

30042000
SIAPA

Siapa menyapa kala fajar menyingsing
Siapa menari diatas panggung bayang-bayang
Siapa bertanya dalam pekat kabut pagi
Siapa berbisik pada angin diujung senja
Siapa biarkan kuntum bunga terpetik
Siapa biarkan dirinya kehujanan dalam derasnya siang
Siapa berkaca pada deras aliran air sungai
Siapa pastikan bisa jawab siapa
……

30042000
KARCIS 2 JURUSAN

Siang itu distasiun kereta api sangat panas
Deras menetes keringatku berbau kecut
Lalu lalang orang buat aku pusing
Karcis 2 jurusan ada ditanganku
Tanpa tau mana yang terbaik

Tangisan anak kecil buat telingaku meronta-ronta
Ramai pedagang asongan tawarkan sana-sini
Karcis 2 jurusan tetap ditanganku
Sambil berdiri kebinggungan
Karna kuhanya orang asing tak tau arah dan tujuan

30042000
Aku Sayang Kamu

Aku sayang kamu
Bersama kualirkan tiap-tiap do’aku didekapan rembulan
Aku sayang kamu
Seperti persetubuhan antara pekatnya malam dan jelitanya pagi
Aku Sayang kamu
Bersama larutnya ciuman dan rebahnya kepalaku didadamu
Aku Sayang kamu
Saat mimpi-mimpi keabadian cinta membumbung dari asap pengharapan
Aku sayang kamu
Bersama lewati lorong-lorong nafsu dan cinta
Aku sayang kamu
Kubelai lembut hati yang tercipta merayu
Aku Sayang kamu
Terbisikkan tiga kata entah terhayati entah tidak “Aku Sayang Kamu”

29042000
Syair Sang Kekasih

Mungkin aku hanya bisa buat syair
Lantunkan liris-liris romantis dalam gerimis
Terdengar angin tertawakan syair-syair
Tapi kuhanya tersenyum sembari melirik

Lihat wajahmu disemua dinding hati
Kembali kutarikkan pena emas mungil
Ungkapkan rahasia panah-panah asmara dengan lirih
Cinta mengalir…..
Dari gejolaknya dan berputar-putar diantara lembah dan bukit

Kekasih….
Dengarlah perlahan-lahan nafas cinta sang angin
Kemarilah biarku dinginkan hati
Dengan dekapan sayang dan kasih

Kemari
Hampiriku, buat mataku jadi telinga maknakan cinta diantara duri
Kubiarkan dirimu mandi dikolam air mata diri
Gerimis tetap melawan sepi
Bicarakan cerita-cerita batin dan kisah kasih
Dua sisi kan tetap tertaut dalam runcing hati
Wajahmu kembali tersenyum manis
Mengecup kening dan kubiarkan penaku berhenti menari

29042000

juliet vennin/winna’
Sebuah Cerita Pagi

Saat itu surya bersinar terang
Kukayuh sepeda dengan hari riang

Pelan namun pasti aku coba seimbang dengan jalan yang tidak rata
Ban sepeda yang mungil melengak lengkok di tengah kerikil-kerikil

tajam
Kutoleh kanan kiri agar aku tak disalahkan karena memakai jalan

seenaknya
tapi…….
prattttttttt……….
tiba-tiba bajuku terciprat air hujan dipinggir jalan dan tubuh serta
sepedaku agak doyong ke kanan
sekilat kulihat sepeda motor sudah berada 100 m dari hadapanku
“hu-uh orang nggak tau apa kalo disini ada orang”
“kenapa bu ?, makanya hati-hati mending ibu bawa mobil aja
he he he”, kata seorang pemuda di yang lewat didekatku

naik mobil…… tanyaku dalam hati
la wong pak umar bakrie aja masih juga bawa sepeda kumbang
iya-ya….. mungkin aku juga bisa pakai handphone seperti
orang-orang itu……
andai….. kapan yach…….. nanti deh aku pasti bisa nabung
Kembali kukayuh sepedaku meniti jalan berkelok dipinggiran desa

sesampai di sebuah bangunan yang agak rapi namun sudah kuno
aku berjalan sambil menjawab salam yang selalu dilontarkan
murid-muridku
setelah bel masuk berbunyi mereka berdiri rapi didepan pintu sambil

sesekali
terlihat mereka saling mencubit atau menyentuh badan temannya
lalu mereka masuk ruang kelas setelah mencium tanganku
melihat kepolosan mereka……
rasanya hilang semua amarah yang akibat ulah si pengemudi motor tadi

winna’

Menyusuri Lorong Dusta

Pekat…..
Gelap….
Tanpa lentara ….
Hilang secercah cahaya

Kotor, gelap
Penuh sarang laba-laba
Jijik kumelihatnya
Kudekap tubuhku dengan selimut tebal

Bisakah kuteruskan langkah
Bisakah pasti kuberjalan
Akankah ada secercah kejujuran jiwa

Pengap
Sesak rasa diri mengantung dusta
Menipu dinding nurani, semua

Mengeliat dalam gelap
Menari diatas kegetiran
Semakin sesak batin, rongga

Aku ingin titik kejujuran
Tak kuasa ungkap seribu makna
Tertipu tertipu, dan
Tipu semua jiwa
Kutetap susuri lorong dusta
Biarkan sesak terus memenuhi rongga
Karna kata orang
“Tidak jadi masalah apabila kita menipu untuk kebaikan”
meski diri terus dihimpit sesak di dada
teruskan menipu jiwa
tanpa sadar tipu juga diri sendiri, segenap

10042000
winna’

 

 

Wajah itu menatap

Dalam perputaran waktu di ujung langit
Dalam pekatnya malam dan ganasnya siang

Aku, gadis kecil menatap pada langit-langit debu
Aku, seorang bocah mengusap keringat
entah keringat duka entah suka
Aku hanya tersenyum sambil sesekali mengusap-usap rambutku
yang penuhi debu dan asap jalanan

Aku bernyanyi dalam derasnya asap motor
Aku berharap cinta kan hampiriku
bukan tatapan ngeri
bukan tatapan takut

Wajah itu menatap
Sinis padaku
Wajah itu menatap
melirik, hanya
Wajah itu menatap
kasian padaku
Wajah itu menatap
beberapa uang receh dikeluarkannya
Wajah itu menatap
sambil diawasi semua sekitarnya, takut
Wajah itu menatap
biasa, sebatas menatap
Wajah itu menatap
o’, ohhhh, bukan aku yang ditatapnya
tapi….. seorang gadis cantik di bemo
upssssss…… aku salah nih

winna’
buat adek-adekku di SMP [Sekolah Malam Pengamen]ALANG-ALANG

 

 

Rindu Dekapanmu

Bunda aku rindu Dekapanmu
Belaian tangan-tangan keriputmu mengusap lembut rambutku yang hitam

Bunda…..
Aku rindu pelukan hangat cintamu
hantarkan tidurku

Bunda aku rindu…..
Bunda putrimu rindu akan cerita-cerita dongeng
Kau bacakan sembari aku terlelap tidur

Bunda aku rindu nasehat-nasehatmu
Buat Kumarah karna tak pernah hayati makna

Bunda dekaplah aku…..
Timanglah putrimu yang lusuh ini
Bantu aku tuk berjalan Bunda….
Bimbinglah putrimu yang beranjak dewasa ini

Bunda…..
Biarkan kuceritakan semua luka
Meski tak pernah ingin ku kau mendengarnya

Bunda……
Ingin kuungkap semua asa yang ingin kugapai
Ingin kubersabar menanti Ayah pulang

Bunda…..
Sungguh ingin aku membantumu
tapi….. rasanya aku terlalu egois dengan waktu yang bukan milikku

Bunda……
Seandainya…….
Andai aku bisa hayati makna kasih sayangmu……
Seandainya……
Bunda ….. Seandainya aku bisa hayati makna kasih sayangmu

Bunda ……
Sadar aku bahwa waktumu bukan hanya milikku
tapi bunda……
Dekap hangat tubuhku saat ini
Agar dingin yang aku rasakan tidak sampai menusuk tulangku

Bunda……
Bunda hangatkan aku dengan cintamu
Bunda I love U bunda

for my mother

Related posts

Leave a Comment