Sajak Yono Wardito | Puisi Cybersastra

HUJAN DI HUTAN

gigit-gigit kuku sambil berkhayal ( gak ada salah nya toh ? ) :

mungkin nanti pada atmosfir seni yang semakin hangat-hangat sejuk, bagai
udara segar di sepanjang pesisir pantai, bagai udara segar di sebuah lembah
, atau bagai udara segar di atas bukit, kita dapat merasakan (hanya
merasakan) lembab dan riuhnya hutan dengan aroma pepohonan dan gemerisik
dedaunan yang dilimbungkan angin tersungkur diatas rekan-rekan nya yang
sekarat, atau kita akan memandang lepas sebuah landscape panjang tanpa
bingkai dan tak bertepi.

mungkin nanti, dengan suasana yang semakin kondusif, kita dapat menikmati
seni bukan hanya sebagai media appresiatif saja, tetapi suatu referensi yang
mumpuni yang menjembatani gejolak kita dengan ruangan lain diluar nya.

“anak-anak”, tidak lagi hanya berani membaca, melainkan tergerak juga untuk
memberikan pijaran-pijaran gejolak; karena mereka tidak lagi hanya diajarkan
untuk membaca saja, tapi juga diajarkan untuk menelaah dan berani untuk
mencoba hal yang sama, karena ruang-ruang yang komunikatif (semakin) terbuka
dan kunci-kunci dari pintu-pintu sudah tersedia bagi mereka: untuk
membuka,mencari,belajar,dan berlaku (memiliki) interdependensi imajinatif
yang dibebaskan oleh mereka kepada diri mereka sendiri.

hingga tua ku nanti, tak sempat lagi berucap :

anak-anak …
tak ubahnya seonggok bunga-bunga melati yang membusuk diatas pembaringan
embun
tak ubahnya hamparan dedaunan yang bercampur belatung didalam selimut hutan
kesunyian
tak ubahnya batang-batang kering tua terbakar matahari dilereng-lereng
kesendirian yang disengaja
tak ubahnya tepi kali yang dangkal menjilati liur aliran air penggunungan
yang ber akrobatik dialektik

sebagaimana angin yang menangis di ruangan mu,membawa sesak aroma hingga
menutup paru-paru mu,mencoba meraih jantung dan melunglaikan persendian mu :

        : seperti apa ?
…………………

mungkin (saja) nanti, mereka tak dapat menjawab (atau tak sempat sekalipun)
mereka “tetap” terkontaminasi “polusi” yang (mungkin) kita ciptakan …

mungkin nanti … mungkin nanti … mungkin nanti … seni … seperti apa ?
( ah … bagaimana rupa mereka kini ? )

mungkin nanti.

=end=
sebuah catatan yang hilang akal,271099.

kanvas pantai dan lukisan camar

: surat buat Teranatha Lita.

Ang Gie, membaca suratmu, aku menulis ini :

warna jingga dilangit segera akan mengatupkan getar rahangmu rapat-rapat, kembali seperti malam kemarin ketika
kau,angin,deru ombak,ranum gemintang,bulan setengah baya,dan bisikan cemara, berteduh didalam hati mu,
bercanda tanya,luka,dusta,cacimaki. begitu dirimu luruh dalam kesendirian kulumkan sepi, bagai karang, kau yang
menyabik ombak dari keriuhan yang diciptakan mereka.menepiskan luka-luka pantai : lihat, darah nya : hanya buih.
kata mereka !

tak kan lagi dilukis pada kanvas (pantai) dengan tarian beribu camar, dalam sebuah bingkai yang mengurung
metamorfosa,kesunyian mu:kesendirian yang diciptakan mereka !

apakah hidup sekarang adalah fatamorgana,dari Setan yang membuka aurat Adam-Hawa,apakah berarti :takdir
telah dipermainkan ?  apabila dusta adalah pemaknaan luka, dari mereka yang menghujam kan belati pada
anak-cucu Adam-Hawa, apakah kini: firman telah diselewengkan ?

(malam ,dan malam, dan malam, bagai seribu deraan kerinduan ? atau telingkung pencarian ? bukan !)

tak akan,kau temui pantai dimana kejujuran telah dilukiskan berupa tarian camar (dalam riuh sengau pencarian
kebersamaan ,kecuali bingkai yang mengurung kerinduan mu pada : Illahi !

” Bila Tuhan tak juga datang, maka Aku yang akan menghampiri Nya !”

pada kanvas pantai dan lukisan camar : ku cium aroma kerinduan mu,atau sebuah kekesalan ?

sebentar lagi, dan hanya sekali, sampan ku beradu,pada buih, mungkin juga badai :
— airmata mu yang menjelma ?

hanya Dia dan Kau yang tahu (semoga bukan gombal !).

BEAST

A beautiful girl on the arm of her beau,It makes him wonder, “Why is it so?”He looks in the mirror in utter
surprise,And says, “Why not me who wins the prize?”Oh foolish man this I must say,It’s the scent of BEAST, that is
the way …..

EPILOG SEBUAH DESA
: moanam

didada ku dulu tinggal masurrealisme
ornamen sejuk warna-warni dari sebuah desa  entah jerami atau bunga-bunga terhampar dari taman didepan rumah
hingga dibelakang kandang sapi dari dalam dadaku kaligrafi itu semakin lama semakin kasat hanya nurani tanpa
siasat  menyeret,membuka,mengeja,menyanyikan bagi kita sebuah kejujuran

[ ngung-ngung-ngung dadaku berdengung ]
[ pletak-pletak-pletak dadaku bergemeretak ]

didadaku dulu tinggal masurrealisme
tentang kejujuran sebuah desa
tentang desa sebuah kejujuran
…………..
kejujuran
desa
…………..
desa
kejujuran

itu dulu
— kini dadaku pergi, menjelma tangan-tangan.

LELAKI TENGAH MALAM
: recong didada puluhan tahun

di Liner Hanger #JS950006 : malam menyeruak memaksaku keluar dari gigil
lorong-lorong kemarahan ku
ketika sejenak, aku berpijak pada sekeping mimpi yang kau letakkan didepan
mata begitu saja, seperti sengaja ingin kulihat, senyum yang kau lemparkan
bagaikan mengguyur dahaga dengan segentong madu

itulah aku, lelaki yang menyimpan hasrat nya sendiri di alam bawah tumpukan
berkarung-karung amarah

saat tiba dipenghujung malam, ketika aku coba bangkit dan keluar dari deraan
sejuta kemarahan, tak jua kusadari, bahwa senyum mu memang sebenarnya lah
senyum dengan seteguk anugerah bukan sekeping mimpi yang tak layak kupijak
lagi : itulah ……..

SESUDAH KUBAH DIBUKA

     : a c e h | r e f e r e n d u m ? | y a h   o k e  l a a a !! |

sesudah kubah dibuka
jauh diatas bolong-bolong cahaya mengalir membasuh darah  dari mata yang terluka

sesudah kubah dibuka
karena cahaya semakin deras mengalir pada dada tercabik-cabik dari ujung belati dan hujaman mortir

sesudah kubah dibuka
karena dibawahnya negeri membias timah panas
— kepingan emas,bongkahan nikel, tak lagi menggapai tangan
dari pasak tak lagi memandang jagad

sesudah kubah dibuka
bulan bergulir,matahari bersimbah
sama-sama menyapu darah
menutup berlembar-lembar surah,ayat-ayat
firman yang kau bekukan dijantung mu
— masih juga kah kau ?

SERAMPANG DUABELAS

kuletakan diatas tikar
— sebuah poci perak
ditengah orang-orang yang duduk
menuliskan gundah atau canda tawa
seperti inginku mereguk setetes dari ujung jari-jari yang nyaris terluka
bukan darah atau airmata
tapi, hati yang keruh dan gemerigil ceria

duabelas kali berputar
— aku ambil lagi poci itu
kubiarkan angin membawaku melayang dari kubangan nikotin
hingga jatuh terjerembab dipiting kafein
menjelma darah dan airmata bergemeretak
jantung yang tak kuasa pada adat

duabelas kali aku duduk dan bangkit dan duduk lagi diatas tikar dengan sebuah poci menatap samar-samar wajah
sang putri junjung buih semoga tak mimpi lagi.

GIGIL METROPOLITAN
: membaca surat Nanang

inilah gigil
kota ribuan bunga,kancil,buaya,kelinci,kucing,harimau,macan,ular,dan semak-semak

ingin memadam kan api
dari berjuta-juta hektar hutan yang membakar diri karena matahari semakin bernafsu
meluluhlantakkan  kecemburuan yang menempel pada daundaun

gigil :
— duapuluh pase tigapuluh aku panasdingin ?

*tik-tik-tik*

( *-inget- suara gerimis ketika senja,dan lampu-lampu sepanjang jalan daanmogot seperti enggan melek )

S U D A H (2)

   : buat Oetami & Aranggi

serasa seabad dari duajam yang kulalui membalut sajak oet membentang sajak anggi

panorama, seperti kepulan asap dari api yang menjilati teriakan kemarau ketika bergumul didalam lubukku

didalam …
menjelma cahaya menyetubuhi jagat raya ketika aku kembali lagi dari awal keujung tak berakhir

oet, anggi,
aku enggan pulang : bagai melepas kupu-kupu ditaman penuh belukar dan bunga-bunga dari lukisan mata terlanjur
tak terjaga — sudah.

BENTALA

1)

duhai,
aku mencari makna hidup
sungguh yang Kau beri
pada nuansa luar dan dalam mata hati ku
berkecipak pada air danau yang tenang
bersujud dibawah gemuruh ombak
bergulir didedaunan yang pekat

hingga pada pasir ku nanti …..
: ya Izzati !

2)

nun gelap
nur terang
cahaya Perupa
beraroma
— mewangi jagat !

3)

maya pada bayang
teronggok dibelakang mu
beringsut pada sudut mata
menari
menari
selaksa impian pudar sudah
mengayuh dihempasan angin
sunyi
sunyi
selaksa mencari tak jua bertemu
kerinduan ?
: pada nyanyian
membelah fajar
ke muara hati tak berbelas arah.

(  jempang,pagi hari )

MIMPI KABUT

saat aku bangun
mimpi kabut di wajah mu belum juga pupus
kau yang tak ingin beranjak dari lembutnya pelukan malam
kau yang sendiri, tak inginkan ku pergi

semalaman gigilku merindukan hangat mentari,
yang kau harap akan memeluk tubuh ku rapat-rapat,

seperti juga mimpiku semalam
kita mengalir diawang dingin diantar kehangatan
mencari sebuah kehidupan, dimanakah kan bermuara ?

“tak ada banyak jalan yang harus kita lalui,
karena semua akan tampak seperti sama.”

seperti juga negeri Tuanku memberimu nama
yang akhirnya menciptakan retorika :
— kita berangkat pulang.

aku beranjak setelah jemu rebah-rebahan,
hanya menikmati sejuta bayang mimpi kabut diwajahmu
aku pupuskan diakhir malam gemintang diawal fajar mentari
bahwa aku harus pergi, meski juga tanpa mu.

(tanpa judul)

dari dua malam di hutan bakau, aku coba mencari ketenangan dari hiruk pikuk diri dan negeri ku yang gemuruh.
sejak itu aku berikan nama : zulfikar.

HARI INI

kau lelapkan ruh ku dalam penantian
binasakan pencarian lelayu

pada doa-doa seutas bahar yang melingkar pada dahan-dahan zulfikar pada firman-firman … hari ini.

HARI KEMARIN

satu sujud pada malam ku suntuk
membalut keheningan ranting-ranting zulfikar sebagaimana punai terperangkap embun dan khusyuk ku melukis
mimpi  tentang hari kemarin.

MIMPI GADIS KECIL DIPADANG TANDUS
: buat Cecilia

tangismu
kuharapkan menjelma tetesan hujan  yang jatuh dari langit  hitam pekat diatas kering kerontang dibawah dan
tangis mu bias ditengah nya

” aku jelang perawan dan jejaka yang menikahi hujan “

hujan !

( dan mereka berlarian kearah benih mu ditanam )

ELEGI IMPRESSIVISME ZULFIKAR

tangan-tangan mu luruh dalam belaian angin melambai pada senyuman gadis ladang di seberang melukis hamparan
padang ilalang dan hymne air dikaki mu gaungan gelisah tutup cukup mulut lidah ku kelu : subhan allah !

PURNAMA KEMUNAFIKAN

aku berkaca pada cermin mu yang tersipu dikali
mengajak ku merunduk
pada kisah kasih kelana sufi
antara bilik mu dan bilik mereka
ako mencoba untuk menggapai zat mu
: pada cermin
wajahku yang dilukis pada bingkai purnama kemunafikan.

LAMBADA

malam itu berserat
bagai kulit ? ya, namun bukan kulit kita, tapi semacam kulit kayu ada darahnya ? sepertinya begitu warna nya ?
hitam yakin demikian ? hitam alasannya ? hitam seperti apa? hitam loh kok !? hitam

( tawa itu berderai )

a friends is ….

bla-bla-bla seperti kamu dan aku bla-bla-bla

anak-anak mu ?
anak-anak mu ? istri mu ?! suami mu ?

mereka tau !
iya, tapi tau dari mana ? ehm ,,, ehm ,,,

( tawa itu diam )

apa kubilang ,,, malam itu berserat dan warna nya hitam iiiiiiih …..

KLIK (2)

duor !

buta
ujung baja berselimut timah panah itu pun melesat dari pekik jari telunjuk yang penuh birahi merobek angin yang
pada gilirannya memperkosa jaringan darah di tubuh mu

kamu pun menggelapar
mengerang  tanpa sedikit rasa nikmat hingga manisnya rasa sakit pun kau lupa

apalagi ?

kecuali disaat kemudian
kau lihat jasad mu sudah tak dapat lagi disentuh apalagi dibawa pergi

hanyut diatas kubangan darah.

PANTATKU DISERUDUK BAYONET

” tendang militerisme ! ”
” hapuskan Dwifungsi ABRI ! ” ” cabut, dan jangan pernah adalagi UU PKB ! “

itu saja.

tapi ternyata adalagi,
seorang bocah usia duabelas an nyeletuk : ” loh … Om, yang jadi presiden kan dari PKB ? “

( hati dongkol ) aku bilang :
” mau tahu gimana rasanya ? coba nungging dan aku tusuk dengan ujung bayonet punya bapak mu ! “

( cengar-cengir ) bocah itu bersuara lagi :
” heee, Om ini dari Poros Tengah, yah ?! “

( kujitak kepalanya ) dengan memaki :
” bukan , Om dari pentolan “Poros” yang di “Tengah”, goblok ! “

rupanya,serdadu-serdadu diseberang, kecipratan airmata anak kolong nya itu

dengan senjata lengkap, yang kata nya berpeluru karet ( tapi itu kan “katanya” ? ) tapi kan ada bayonet nya juga
? mereka pun gelisah, kaki nya tergoda, tangan nya terjaga …

teman-teman ku menggunakan jurus masing-masing
sama hal nya aku bermodal sisa-sia medali perunggu lari estafet,

aku pun lari …

bayonet tak lebihnya peluru
tak tahu yang mana kepala yang mana tangan  dan yang mana kaki

…………………

dikursi dewan
bayonet semakin terasa.

KAKI-KAKI MUNGIL DIPEMBARINGAN BATU KALI
: buat Tiar Rahman

” bantu aku “

mentari pagi begitu saja menumpahkan kehangatan
bukan saja pada dedaunan,ranting,unggas,tebing dan juntaian rotan tapi juga menyeka mataku yang sembab
semalaman

” tak adalagi kanak-kanak itu ! ” suara itu,
pekik yang menggema didalam sunyi dinding jantungku

mungkin saja
sebab bunga-bunga tumbuh mekar dan kuncup tak kan berpulang
pada sebuah tangkai atau bingkai daun
kecuali serpihan pasir diantara kaki mu berpijak
pada batu-batu kali
yang semalaman
tidurnya memang adalah buat mu.

IMPRESIFISME LAUT
: jibsail

” penopang sebuah layar “

begitu aku berikan nama pada sebuah wajah
dari bayang pemisah waktu yang lain

bergerak diantara warna warna
percikan api didasar samudera kegalauan yang terbakar

dan diatas riak menari-nari
kata-kata itupun seperti lari mengeja diri nya sendiri

aku tuliskan :
++++++++++ disini, semakin jauh masa yang kuarungi  diatas geliat tubuh malam mu, semakin aku pasti dirimu tak
dapat ku peluk dan kutidurkan pada sebuah bintang atau selembar dari warna pelangi ….  ++++++++++ lagi aku
tuliskan lagi : ++++++++++ ” kecuali pada angin, yang menendang-nendang keteduhan mu … ” ++++++++++ aku
tuliskan lagi lagi  lagi dan  lagi ………………….. …………………..

SEMBUNYI DIDALAM MATA YEHOVA

kau berlari
aku kejar tak inginkan jauh dirimu yang mengapung bagai sebuah sampan di lidah samudera.

PROSA JEJAKA

bulan dekapmu dalam pekat mimpi-mimpi panjang hari-hari kemarin mengajak pejamkan mata tak membayangkan
senja merah menyapu pantai hingga mentari terpuruk dalam pelukan bukit-bukit kecil di seberang : tak lagi !


ANESTESI DIDALAM TENDA

fosil reptil
jejak-jejak kaki telanjang didada  tato alami sisip kulit kacang pecah sisip tangan gelas plastik, ades
terkencing-kencing menimbun vodka, drygin, muntah-muntah  didada  tato alami apalagi yang ingin kau pulung ?
dari yang sengaja menimbun dendam  dan lari menghilangkan jejak pada vcd, microwave, rice cooker, handphone,
freshmaker,flet lcd,zippo,swiss army tercium bangkai nya digerayangi redam rejam embun

dingin
ku  ingin

didada
tato alami
betapa penjelajahan mu
dengan mata menyusun keranda
dengan hidung menulis doa
dengan bibir kering meraih anak mu
: tak kembali

kematian
didada tato alami fosil reptil jejak kaki telanjang

dek-dek-dek sesaat setelah itu

lihat lah diluar
siapa yang menabur elegi kemaluan

” selamat datang di kamar kemaluan
berkumpul dengan kami kaum jelma frigid,maniak,impoten … “

atau tetap didalam
dipeluk birahi ejakulasi premature ku !

kaki telanjang, selamat datang.

INTERTELASI HUTAN

ada banyak
wajah-wajah tersenyum manis dan lugu mu  di ukir pada punggung dada hingga lingkar pinggul Agatis lepas
menatap pada jemari-jemari lentik tarian Meranti di bukit seberang pergelangan bertuliskan nama-nama bukan
nama-nama siapa-siapa

ada banyak
yang mengubur  wajah-wajah ragu-ragu putus asa menendang harapan sebab impian tak mudah lagi dikail dibawah
humus sampah dan daun-daun dibalik tangan anak-anak adat

hih ! rebahlah angin beri nyawa pada belatung

dalam genggaman wajah-wajah
bukan wajah-wajah siapa-siapa

hih ! tidak kah rebah angin padaku

memberi nafas pada tangan-tangan anak-anak adat

hingga pada nama
pada wajah

milik mereka, bukan siapa-siapa

” y o i , bukan disana tempat kita, tapi di sini ! “

di hutan.

DI ATAS SAJADAH

aku temukan sebuah negeri
yang di ditunjukan oleh Malikat-Malaikat

bukan karena firman Tuhan ku
melainkan dari sabda para Nabi

kini
akupun terkurung dalam juta kesalahan tanpa pembenaran

Tuhan,
dan seperti yang aku ketahui sudah tak ada lagi pembelaan

kecuali
diatas sajadah airmata ku luruh dalam peluk cium Mu.

SEBUAH LORONG DIDALAM KASTIL

mimpi-mimpi itu menjelma dalam kata-kata ku
ketika aku bilang : ” cinta “

padahal
saat ketika kau beranjak dari mataku

telapak tangan ini seperti kering dan retak

penuh tanya dan
aku pun bergumam : ” dimana mengalirnya darah-darah ku ? “

tidak kah Dia riuh pada lorong dibawah kaki kita ini ?

dan begitulah kau berbalik
menatap pada cinta yang tinggal mengawang diantara dinding lorong didalam kastil.

INFINITY BIRU MUDA

” hai “

begitu senyum mu menyapa ku

” hai juga “

aku berusaha membalas

matapun memaki
tak dapat berpaling : ” aahh … aku sudah berputra dua loh ! “

dasar mata keranjang !!!!!

:::::::::::::::

METALURGI PENYAIR INTERNET

dan malam pun marakan bias pasilan kata-kata elegi impressivisme pada serat-serat nadi alphaxp di nimitz domain
tersadur tangan outlook web access yang mengusung suri percikan embun membalut alam sadar diam dalam
kesunyian yang merebakkan aroma kematian misteri seorang selfosofis : sepi ku hidup !

Nunukan,221099.

CINTA PERAWAN DIBAWAH JEMBATAN KOTA

dari dendam daun yang di gelimpung kan angin hingga terselip diantara pelukan rotan menjelma pada akar
kebusukan.

berawal pada sebuah cerita bayang-bayang rintihan yang mengoyak dahan ranting dan selimut embun malam ada
perawan, harum bagai melati, nursanti namanya, merenung dibawah jembatan beton yang terselip ditengah hutan
kota dibawah deru trailer penarik peti kemas dan kepulan asap dari mesin diesel cerobong pabrik kopi yang
kelelahan nursanti, menanti bilal

bilal, katanya, sanggup menyirami hati gundah gelisah dan amarahnya yang mengkristal “begitu kata ibuku” lirih
nursanti

sebentar lagi bilal kan datang (aku tahu, itu pasti) “tidakkah dia juga kan menggandeng tangan mu ?” tanya
nursanti,kepada ku, kepompong yang kelaparan dan begitu ingin beranjak keluar,,,untuk segera mencari madu (
atau racun, mana aku tahu ?)

“keliling bersama bilal ?” tanya ku, ragu-ragu …

“bila tidak,aku yang akan menggandeng mu, bagi kami, untuk ku dan untuk Dia” jawab mu

“jangan katakan, cinta atas nama Tuhan” sergah ku  “kenapa ? apakah karena Dia enggan memilikiku ?” ujar mu
“jangan tanyakan, cinta atas nama Tuhan” aku menimpali, seperti menimpuk teduhnya danau dengan kerikil kecil
dari tangan balita,,,danau itu pun beriak dan meleleh,menjilati seluruh kelopak teratai

aku membaca puisi, demi cinta nursanti :
CINTA PERAWAN DIBAWAH JEMBATAN KOTA

kumuh lusuh hancur lebur lintang pungkang tunggang langgang kocar kacir hingar bingar remuk redam sumpah
serapah ketika cucu cucu Adam, mencatat dosa-dosa nya lagi : pada selembar uang putih polos

kini aku sodor kan tepat di selangkangan mu
” kau yang tentukan harganya “

puisi itu aku sudahi dengan menggunakan tanda koma tanda petik dan tanda tanya

duh !
nursanti terdiam  hanya jembatan sebagai saksi, yang tak mungkin mampu menjawab karena tak ada yang akan
bertanya ( gila apa ! menanyakan nilai kejujuran pada sebuah jembatan ? )

kecuali Yang di ketinggian tanpa batas

” oh, bilal … ” nursanti terpekik.

( Lodoyo 1999, “surat dari teman” )

DIBAWAH BAYANG BAYANG

mentari pagi yang ku terkam sinarnya
diantara suara suara ombak yang pecah oleh kilatan kepak camar  dan aku pun terhuyung  hingga ditepi jeram Mu
menatap sekali lagi serpihan bayang bayang yang terkapar di tendang mentari pagi yang luka dan sekarat

ku terkam lagi !

BAYANG BAYANG PADA KACA

Ibu,
rumah kita tak lagi riuh karena putra putri mu tak lagi berkumpul

kecuali aku dan hening mu
bergelut cerita pautan rindu

hening.

LAGU MENANTI DIBAWAH POHON KAMBOJA

dibawah sadar ada alam kuburku sendiri,
berselimut gelap dan kain kafan yang masih basah,
sisa-sia air permadian pagi tadi.

kudengar dua keping papan berderenyit menahan himpitan tanah,
didalamnya jasadku terbaring :
— aku menghadap kiblat.

baru saja usai doa-doa pengiring dan penuntun ku,
sebuah drama singkat satu punggung tangga kutapaki,
ketangga-tangga berikut nya :
— perjalanan panjang , bukan lagi perjalanan singkat !

serasa hidup jantungku berdenyut,
ketika satu-persatu dari mereka pergi,
hilang rumah tinggal harapan,
dan, kini aku menanti Dua Bersahabat Karib,
yang akan mengoyak kan kain kafan di tubuh ku
hingga semakin basah dan tercabik-cabik :
— dari hujaman seribu pedang,
— atau bahkan lebih dari cambukan sejuta cemeti.

lihat saja nanti,
cacing-cacing akan berkubang darah,
berebut tempat pada daging-daging ku yang terkoyak,
— berserakan …

hingga saat nya nanti
yang tinggal hanya ada tulang ekor ku sendiri,
bukti kehidupan ku yang tak dapat di sanggah.

SELAT MAKASSAR (2)

tak akan Ku tutupkan jarak Mu,
selama dalam penantian Ku,
ketika mereka tertawa,
mengangkat cerita harum,
dan bau anyir dari jasad-jasad yang mati dan terluka.

tak akan Ku tutupkan jarak Mu,
selama diantara waktu mereka dan waktu Ku,
hingga Aku menyeretnya satu-persatu,
dari tepi pantai ini ,
dan membenamkan nya di dasar laut,
menghimpitkan dicelah-celah karang.

BERDIALOK DENGAN LANGIT (2)

kulangkahi perjalanan paruh waktu
tangan kanan menggandeng Ibu
tangan kiri dicengkeram Bapak
sepanjang nya bait-bait dalam satu ayat
adalah belati yang menyayat setiap nadiku.

kami bertiga dilorong gelap
melangkah menghampiri sinar terang di depan
aku tak tahu ( entah apa )
Ibu menangis,
Bapak terdiam,
kami bertiga dalam satu ayat.


ELEGI IMPRESIFISME TUNAS

dibawah kubah belantara,
tunas-tunas seperti enggan mendongak,
padahal tubuh-tubuh renta tua,
semakin tak mampu berpijak pada kaki-kaki waktu,
tubuhnya yang di baluri benalu,
dihimpit paleonopsis dan lukut-lukut yang memucat kan angin,
— merebak.
dia telah di jadikan abdi atas nama pengabdian.

kupu-kupu lalu lalang seperti menari-nari,
dan kacer-kacer pun ambil bagian berebut tempat untuk menyanyi,

aku diantara mereka,
mendongak keatas,
— setelah lelah menepekuri sepi.
pada matahari yang kecewa karena hanya menyaksikan,
sketsa-sketa abstrak itu.

sejenak aku berpaling, pada gemericik nya air,
yang mengalir dari kali kecil di sisi tebing pilar belantara,
tampak jelas aku lihat,
yang serentak meraih-raihkan tangannya,
pada batu dan bibir – bibir sungai :

mereka melolong …
menggapai – gapaikan tangan nya kepadaku,
hingga tak tahan hati,
— aku pun beranjak pergi.

” Semoga, tunas-tunas itu akan sanggup berdiri “

hanya itu kataku ( bergumam ),
mengubur benci di balik humus.

ELEGI IMPRESIFISME BUNGA MELATI

tetes embun yang jatuh di pagi hari,
setelah semalam dipeluk daun-daun melati,
tak menjerit walaupun tubuhnya terhempas ke tanah,
meski, saat itu daun-daun melati berkata :

” selamat jalan, hingga malam nanti aku peluk embun yang lain “

tak ada ucapan terimakasih,
tak ada belas kasih,
memang selalu begitu akhirnya.

di tanah, embun hancur berkeping-keping,
tubuhnya yang lemah lunglai berserakan sudah,
kepada semut-semut yang berebut sisa-sisa sari,
menggerogoti … mencabik-cabik,
jasad nya yang nyaris sempurna tak terkubur.

perlahan matahari,
membangunkan bunga-bunga melati,
bergeliat , daun-daun melati saling berbisik,
dan saling berdekapan menahan angin,
bunga-bunga melati itu menggeliatkan harum nya sendiri,
sembari bertanya :

” Siapakah yang menghadirkan ku semalam ? “

daun-daun melati terdiam, tak lagi berbisik,
seperti menghanyutkan tanya begitu saja lewat angin,
pergi begitu saja,
memang selalu begitu akhirnya.

ELEGI IMPRESIFISME MAHONI TUA

Dia telah menjadi usang,
setelah sekian lama waktu tak bersolek,
dua puluh lima tahun terakhir,
setelah satu dahan nya patah,
oleh tiung-tiung yang bersarang pada luka-luka di tubuhnya.

menyedih kan :
bagai menunggu purnama tiba,
seperti ingin meraba punggung bumi,
tangan-tangan kecilnya meng kais-kais,
mengumpulkan sisa-sisa kenangan,
yang akan ditempelkan pada dinding-dinding mimpinya.

Ia ingin segera rebah,
pada hamparan beludru semak-semak !

aku menatapnya lewat api,
aku merabanya lewat angin,

” kenapa terbakar ?! “

sedang ajal belum tiba …

— kemarau ini teramat sangat perkasa.

merenggut mu.

Desember 1998, catatan 3 hari di “GegerKalong”

DIBAWAH KUBAH SINAR LAMPU MONUMEN NASIONAL

terakhir kali sebelum tiba tengah malam
dia bertanya :

” aku dilahirkan sebagai hamba Mu , apakah kini aku bisa di terima sebagai
hamba Mu ? ”
” aku anak tanah negeri ini , apakah nanti tanah negeri ini akan memeluk ku
? “

hingga tiba tengah malam
tak juga usai lelah penantian nya
entah akan jawaban
atau sekedar sapa pinggiran
tak satupun yang berkenan
kecuali angin malam
yang menaburkan debu
dari tubuh-tubuh gagah gedung-gedung bertingkat
dari jalan-jalan mewah berselimut aspal
hingga bertebaran di bawah kubah sinar lampu-lampu
alam pandang mengabut
menutup pada luka-luka lama
— melahirkan kulit belia
menutup pada luka-luka baru
— beradu dengan darah
dan darah pun berlumpur debu
: tubuh telah menjadi kubangan

dan saat tiba menjelang fajar
debu,
semakin tak dilihat
— apalagi di jawab.

DENGAN LEHER , KU TARIK PEDATI

entah apa beban yang kubawa
ditutup selimut karung goni
begitu berat dan sangat sarat
tidak basah
tidak juga harum
kecuali berat
kecuali sarat
untunglah roda sangat bersahabat
mendorong maju langkah ku perlahan
untunglah tali sangat bersahabat
begitu lembut dan seperti enggan mengikat

: tapi aku tetap tercekik
: tapi aku tetap tergopoh-gopoh
: tapi aku harus tetap jalan !

bagaimana ini ?

atau

tolong dong ambilkan pedang !
tebas leher ku sekali !
dan putuskan !
……………………………………………

hayo ! coba … apa jawab mu ?!

🙂

DI EMPAT SUDUT MERAH PUTIH
— ketika ” Bung Tomo “

sejuta bunga memeluk embun
dari sisa tetes airmata kesah mu
hingga larut dalam urat pada akar
sampai nanti ada tunas baru yang tumbuh
diatas tanah mu yang meronta.

angin-angin seperti ingin berbisik
pada kami yang mencari gaib mu bersembunyi
tapi angin malu atau takut
hingga misteri pun tetap lelap
— atau pecah di pundak debu ?
dan mereka jatuh terkapar satu persatu
diatas tanah mu yang meronta.

lihat lah tanah mu kini
yang menggelepar di dongkel nafsu
yang terisak rindu usap tangan mu
hingga kami ilalang menjerit

serak keluar kan pekik
–” MERDEKA ”
atau bila terjaga di depan mata dan lebur dalam
–” ALLAHU AKBAR ” mu

kami
telah jadi ilalang diatas tanah mu yang meronta.

PADA DAUN BAMBU LUKA BERADU
— ketika ” Cut Nyak Dien “

doa mu serupa tangisan jangkrik pada malam yang di tebas hujan
mengerang karena luka begitu dalam
dan sehembusan naluri pun dicacah api.

ada luka mengawang hingga bergelayut pada daun-daun bambu
meninggalkan jasad-jasad syahid yang menghela pada luka pada rindu perang
dan suara mu pun meredam di dinding-dinding tebing

mereka berlari sujud pada syahid mu :

yang kini di injak lagi !

NEKROLOGI
— ketika ” Ibadah Semak Semak “

biarkan biru legam
dan malam sertakan aku tuntaskan gelap senyap nya
aku ingin tenggelam dan larut begitu dalam
maka biarkan menjadi umpan sekumpulan saluang sahang.

sepertinya kalian berada mengelilingiku
: aku api unggun yang mulai padam
maka biarkan aku terbakar hingga jadi abu diatas tanah ku yang tertidur.

 

 

Related posts

Leave a Comment